Select Menu

Tutorial

Bahasa

Sastra

Makalah

Tutorial Blog

Tutorial SEO

-

-

Premium Template

-

Menghubungkan Isi Puisi dengan Realita Alam dan Sosial Budaya Menghubungkan Isi Puisi dengan Realita Alam - Sebagaimana anda ketahui, puisi ditulis berdasarkan inspirasi yang didapat oleh penyairnya melalui pengamatan atau perenungan atas lingkungan sekitar. Contohnya, puisi yang menceritakan kesedihan yang sangat mendalam. Puisi tersebut dibuat atas dasar perasaan dan kehidupan si penyair yang mungkin mempunyai kenangan kesedihan yang begitu mendalam. Kesedihan itulah yang menginspirasi penyair, perasaannya dicurahkan ke dalam bait-bait puisi.

Contoh lain, sering kali puisi muncul sebagia bentuk kritikan yang ditujukan kepada pemerintahan. Puisi tersebut dibuat oleh sang penyair berdasarkan inspirasi atas beratnya kehidupan dalam pemerintahan yang kurang tegas dalam menjalankan hukum, banyak permasalahan, dan sering muncul kerusuhan termasuk tindak korupsi oleh pemerintahan, yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Sama halnya dengan lirik lagu Iwan Fals yang dibuat untuk mengkritik pemerintah.

Dengan demikian, seorang penyair tidak dapat dilepaskkan dari kondisi kehidupan alam sekitar, termasuk juga keadaan alam tempat penyair itu berada. Benda-benda dan suasana di sekelilingnya sering kali dipergunakan penyair untuk mengekspresikan perasaan ataupun pikiran-pikirannya.

Perhatikan puisi berikut.

SENJA DI PELABUHAN KECIL
Buat Sri Ayati

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di anatara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut,
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah, air tidur, hilang ombak.
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai ke empat, sedu penghabisan bisa terdekap.


                                                                                                                    (Chairil Anwar, 1946)

Untuk dapat menghubungkan isi pusi dengan realitas alam dan atau realitas sosial budaya, yang perlu diketahui pertama kali adalah isi puisi itu sendiri. Pahamilah bait isi puisi dengan cara mengartikan kata-kata konotasi, kata yang bermakna lambang, ataupun dengan cara memparafrasekan puisi tersebut.

Setelah memahami isi puisi atau perasaan yang ingin disampaikan penyair, langkah selanjutnya mencari realitas alam. Maksudnya, penyair mencurahkan puisi sering kali menggunakan perwakilan benda-benda ataupun suasan lingkungan alam sekitar. Selanjutnya menghubungkan isi puisi dengan realitas alam yang tergambar dalam puisi tersebut, mengapa penyair memilih perwakilan benda-benda tertentu ataupun suasana tertentu yang dirasa paling tepat untuk mewakilkan perasaannya.

Alur: Temukan makna puisi – Cari benda ataupun suasana yang menjadi perwakilan hati – hubungkan pemilihan benda tersebut dengan isi atau perasaan sang penyair.

Contoh:

Menemukan makna puisi

Puisi di atas kurang lebih menggambarkan suatu perasaan kesedihan sang penyair yang belum juga menemukan cintanya. Hanya kesendirian yang dirasakan penyair, dalam kesepian dan kesunyian, tak ada yang mau menolong.

Perwakilan benda dan suasana

Penyair menuliskan kesedihan hatinya dengan perwakilan kata 1) gudang, rumah tua, tiang serta temali, 2) Kapal, perahu, tiada berlaut, 3) Suasana gerimis mempercepat kelam, 4) kini tanah, air tidur, hilang ombak.

Hubungan perwakilan benda dengan isi puisi

Inilah inti atau pangkal dalam materi ini. Di sini, kita dituntut untuk mampu mencari hubungan “mengapa penyair menggunakan kata itu (benda/suasana) sebagai perwakilan perasaannya?”

- Gudang, rumah tua sebagai perwaikan perasaan kesendirian, kesunyian, dan kesepian.

Gudang mempunyai pencitraan sebuah tempat yang pengap, sepi, sunyi, tempat untuk menyimpan barang-barang yang sudah tidak terpakai lagi. Oleh karena itu, sangat jarang orang untuk memasuki gudang tersebut. Jika diibaratkan seseorang ada di dalam gudang dan rumah tua tersebut, tak ada sama sekali yang menemaninya, hanya kesendirian dan kesepian. Semua itu sama seperti apa yang juga dirasakan oleh si penyair, merasa sendiri dan kesepian.

- Gerimis mempercepat kelam sebagai perwakilan perasaan sedih.

Dalam realitanya, ketika kita dalam bepergian tiba-tiba turun gerimis (hujan deras) pastinya kita akan susah. Selain itu, ketika kita berusaha untuk mencari seseorang yang harus kita temukan tetapi sampai hari semakin larut pun belum juga ditemukan, pastinya akan sangat sedih. Realita itu sama halnya dengan perasaan penyair yang sedih karena belum menemukan cintanya.

- Kapal, perahu tiada berlaut sebagai perwakilan kesendirian dan tidak ada orang yang menolong

Kapal dan perahu dalam hal ini ibarat masyarakat sekitar yang tiada berlaut. Masyarakat diam, membisu, tak mau mengerti ataupun membantu atas apa yang dirasakan penyair. Semuanya tak mau “berlayar”. Seandainya saja kapal dan perahu mau berlaut (Seandainya saja masyarakat mau membantu), siapa tahu penyair bisa mencari dengan mengarungi lautan dan menemukan cintanya. Tapi pada akhirnya, penyair hanya bisa menyusuri semenanjung sepanjang laut bahkan laut ke empat yang pada akhirnya hanya “sedu penghabisan bisa terdekap”, hanya kesedihan yang dirasakan karena cinta pun tidak didapat.

Menghubungkan Isi Puisi dengan Sosial Budaya

Puisi yang dibuat oleh penyair sering kali diwarnai oleh kehidupan sosial budaya. Seperti yang telah dijelaskan di atas, dalam kaitannya dengan sosial, penyair kadang mewarnai isi-isi puisi dengan realita kehidupan sosial yang sedang terjadi sebagai bentuk kritikan. Selain itu, unsur-unsur budaya kerap kali tertulis dalam sajak-sajak yang dibuatnya.

Gambaran seorang penyair yang religius, mereka akan menuangkan ayat-ayat AL Quran ke dalam puisinya. Gambaran seorang penyair asli solo, mereka akan menuangkan kehidupan sosial budayanya ke dalam bentuk puisi.

Perhatikan contoh puisi berikut yang notabene ditulis oleh orang solo

Gelak tawa keramaian menusuk telinga
Bingar-bingar suasana di penghujung jalan
Diwarnai kelap-kelip cayaha sekaten
Tapi tak jua mengusik kesunyianku

Secara sekilas, isi puisi tersebut mempunyai makna seseorang yang merasa hatinya sunyi walapun sedang berada di tengah keramaian suasana sekaten.  Dalam puisi di atas, diwarnai kebudayaan sekaten yang mejadi budaya masyarakat Jawa Tengah.

Hubungannya apa penyair dengan sekaten?

Penyair mewarnai puisi-puisinya dengan kehidupan sosial budaya masyarakat Jawa Tengah sebab penyair itu sendiri hidup dan berasal dari Solo sehingga tak heran jika puisinya diwarnia dengan kata sekaten.

Contoh selanjutnya

SURAT CINTA

Wahai, Dik Narti
Dengan bunga-bunga dan keris keramat
Kuingin membimbing kau ke altar
Untuk dikawinkan


                                                                   (W.S. Rendra, 1959)
Kata panggilan Dik dalam petika puisi di atas tidak lepas dari kehidupan sosial budaya, dalam hal ini Jawa. Pemuda Jawa menggunakan panggilan dik untuk orang yang terkasih atau orang yang di bawah usianya. Kata-kata keris keramat juga merupakan gambaran budaya Jawa. Keris adalah senjata pusaka msyarakat Jawa yang sering dikeramatkan. Latar belakang keagamaan penyair, yang waktu itu masih Kristen, tergambar pula di dalamnya. Kata altar merupakan kata yang menyimbolkan suatu tradisi dalam agama Kristen.

Dalam kegiatan ini, kita harus tahu secara persis latar kehidupan sang penyair sehingga mampu menghubunglkan isi puisi dengan realitas sosial budaya.

Bagaimana kalau kita tidak tahu? Alternatifnya kita bisa menggunakan analisis kita yang masih sebatas dugaan. Dicirikan dengan kata “mungkin, sepertinya”.

Dicontohkan sebagia berikut.

Kata panggilan Dik dalam petika puisi di atas tidak lepas dari kehidupan sosial budaya, dalam hal ini Jawa. Pemuda Jawa menggunakan panggilan dik untuk orang yang terkasih atau orang yang di bawah usianya. Mungkin Rendra adalah salah satu penyair yang berasal dari Jawa, atau bisa juga sang penyair pernah mengamati kebiasaan sosial Jawa dan sangat tahu betul kehidupan sosial budaya masyarakat Jawa, sehingga tidak heran jika ia menuangkan kata-kata itu ke dalam puisinya. 

Teknik Membaca Puisi

Teknik Membaca Puisi


Pengertian Puisi - Secara etimologi istilah puisi berasal dari kata bahasa Yunani poites, yang berarti pembangun, pembentuk, pembuat. Dalam bahasa Latin dari kata poeta, yang artinya membangun, menyebabkan, menimbulkan, menyair.

Dalam perkembangan selanjutnya, makna kata tersebut menyempit menjadi hasil seni sastra yang kata-katanya disusun menurut syarat dengan menggunakan irama, sajak, dan kadang-kadang kata kiasan (Sitomorang,1980:10).

Ada beberapa Pengertin Puisi dari para ahli.
  • Putu Arya Tirtawirya (1980:9) mengatakan bahwa puisi merupakan ungkapan secara implisit, samar dengan makna yang tersirat di mana kata-katanya condong pada makna konotatif.
  • Watt-Dunton (Situmorang, 1980:9) mengatakan bahwa puisi adalah ekspresi yang konkret dan bersifat artistik dari pikiran manusia dalam bahasa emosional dan berirama.
  • Ralph Waldo Emerson (Situmorang, 1980:8) mengatakan bahwa puisi mengajarkan sebanyak mungkin dengan kata-kata sesedikit mungkin.

Hal-Hal Yang Harus di Perhatikan dalam Membaca Puisi

Membacakan puisi merupakan kegiatan membaca indah. Untuk itu, pembaca harus memperhatikan empat hal, yaitu lafal, tekanan, intonasi dan jeda.

a. Lafal
Lafal adalah cara seseorang atau sekelompok orang dalam suatu masyarakat bahasa saat mengucapkan bunyi bahasa. Adapun yang di maksud dengan bunyi bahasa, antara lain, [a], [c], f], [h], [u], dan sebagainya. Pelafalan seseorang dalam bahasa dalam berbahasa sering kali berbeda dengan orang lainnya. Berdasarkan pelafalannya itu, Anda dapat mengetahui asal daerah seseorang karena memang beberapa kelompok masyarakat memiliki berbagai macam pelafalan yang berbeda. Misalnya, orang Aceh dalam melafalkan bunyi [e], berbeda dengan yang diucapakan oleh orang Sunda.

Meskipun, demikian dalam pelafalan suatu bunyi bahasa haruslah jelas. Bunyi-bunyi itu tidak boleh tertukar dengan bunyi-bunyi bahasa lain. Misalnya, bunyi [p] dengan [b], [k], dengan [h], atau [o] dengan [u]. Untuk melatih ketepatan dalam melafalkan bunyi bahasa, Anda harus melakukan olah vokal, misalnya mengucapkan bunyi-bunyi vokal atau konsonan secara cepat dan bervariasi.

b. Tekanan
Tekanan (nada) adalah keras-lunaknya pengucapan suatu kata.  Tekanan berfungsi untuk memberi tekanan khusus pada kata-kata tertentu. Tinggi rendahnya tekanan dapat membedakan bagian kalimat yang satu dengan bagian lainnya yang tidak penting.

Contoh:
1.)  Pada bulan Juni banyak terjadi hujan (bukan sedikit dan bukan jarang).
2.)  Pada bulan Juni banyak terjadi hujan ( bukan longsor ataupun peristiwa).

Perhatikanlah bait puisi tersebut.

Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan juni
Dirahasiakan rintik rindunya
Kepada pohon berbunga

                         
Untuk menentukan kata yang perlu mendapat penekanan dalam bait puisi di atas, terlebih dahulu Anda perlu memahami maksud baitnya secara keseluruhan. Misalnya, kata yang perlu mendapat tekanan keras adalah tak ada, bulan juni, rintik, dan pohon. Dengan demikian, Anda perlu menggaris bawahi kata-kata itu sehingga Anda dapat membedakannya ketika puisi itu dibacakan.

Contoh:

Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu

c. Intonasi
Intonasi adalah naik-turunnya lagu kalimat. Perbedaan itonasi dapat menghasilkan jenis kalimat yang berbeda, yakni kalimat berita, kalimat tanya, kalimat perintah, kalimat seru.
Penggunaan intonasi dalam puisi sangat penting agar pembacaannya tidak monoton sehingga pendengar pun lebih tertarik. Intonasi juga berguna dalam memperjelas dan membedakan maksud / pesan dari tiap larik. Untuk itu, sebelum Anda membacakannya, Anda perlu menandai, misalnya dengan garis yang menanjak atau menurun. Dengan cara demikian, Anda akan mudah dalam membedakan intonasi dari setiap larik ketika puisi itu anda bacakan.

d. Jeda
Jeda adalah hentian arus ujaran dalam pembacaan puisi yang ditentukan oleh peralihan larik. Jeda berpengaruh pada jelas-tidaknya maksud suatu kata atau larik. Dalam penggunannya, jeda dikelompokkan ke dalam tiga jenis: jeda pendek, jeda sedang, jeda panjang. Jeda pendek digunakan antarkata dalam suatu larik. Jeda sedang  digunakan pada bagian-bagian larik yang bertanda koma atau antarfrase, sedangkan jeda panjang digunakan pada pergantian larik.

Contoh:

Tak ada/ yang lebih arif//
Dari hujan/ bulan juni//
Dibiarkannya/ yang tak terucapkan//
Diserap/ akar pohon/ bunga itu//
Unsur-Unsur Pembentuk Puisi

Ada beberapa pendapat tentang unsur-unsur pembentuk puisi. Salah satunya adalah pendapat  I.A. Richard. Dia membedakan dua hal penting yang membangun sebuah puisi yaitu hakikat puisi (the nature of poetry), dan metode puisi (the method of poetry).

Hakikat puisi terdiri dari empat hal pokok, yaitu:
1. Sense (tema,arti)
Sense atau tema adalah pokok persoalan yang dikemukakan  oleh pengarang.
Contoh: lingkungan, pendidikan dll.

2. Feeling adalah sikap penyair terhadap pokok persoalan yang dikemukakan dalam puisinya.
Contoh: penyair tidak setuju pada tindakan seseorang yang memanfaatkan sesuatu yang dimiliki untuk tujuan-tujuan negatif.

3. Tone (nada)
Tone adalah sikap penyair terhadap pembaca atau penikmat karyanya pada umumnya.
Contoh: cenderung datar, tidak nampak luapan emosi penyairnya.

4. Intention (tujuan)
Intention adalah tujuan penyair dalam menciptakan puisi tersebut.
Contoh: untuk merubah sikap manusia menjadi baik dan bijaksana.

Sarana-sarana Puisi

  1. Diction (diksi)

Diksi adalah pilihan atau pemilihan kata yang biasanya diusahakan oleh penyair dengan secermat mungkin.
  1. Imageri (imaji, daya bayang)

Imageri adalah kemampuan kata-kata yng di pakai pengarang dalam mengantarkan pembaca untuk terlibat atau mampu merasakan apa yang dirasakan penyair.
  1. The Concrete Word (kata-kata kongkret)

The conkrete word adalah kata-kata yang jika dilihat secara denotative sama tetapi secara konotatif mempunyai arti yang berbeda sesuai dengan situasi dan kondisi pemakainya.
  1. Figurative language (gaya bahasa)

Gaya bahasa adalah cara yang dipergunakan oleh penyair untuk membangkitkan dan menciptakan imaji dengan menggunakan gaya bahasa, perbandingan, kiasan, pelambangan dan sebagainya.
  1. Rhythm dan rima (irama dan sajak)

Irama adalah pergantian turun naik, keras lembunya ucapan bunyi bahasa dengan teratur. Rima adalah persamaan bunyi dalam puisi.

Demikianlah artikel mengenai Definisi Puisi, Unsur-unsur Puisi, dan Hal-Hal yang Harus Diperhatikan dalam Membaca Puisi. Semoga dengan adanya artikel ini dapat menambah wawasan Anda. Akses-Ilmu

Resensi Cerpen, contoh resensi, hal dalam melakukan resensi, ringkasan cerpen, sinopsis cerpen
Resensi Cerpen


Definisi Resensi dan Contoh Resensi Cerpen - Pada kali ini, kami akan menjelaskan mengenai resensi. Hal tersebut dimaksudkan penulis untuk menambah wawasan kepada para pembaca. Sebelum membahas mengenai contoh resensi, saya akan mengawali pembahasan mengenai definisi resensi itu sendiri.

Apakah kalian masih ingat pegertian dari resensi?

Resensi /résénsi/ n dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah pertimbangan atau pembicaraan tentang buku; ulasan buku. Sedangkan kata "mengulas" v itu sendiri mempunyai arti memberkan penjelasan dan komentar; menafsirkan (penerangan lanjut, pendapat, dsb); mempelajari (menyelidiki) dan kata "ulasan" n mempunyai arti kupasan; tafsiran; komentar:
Resensi berasal dari bahasa Latin, yaitu dari kata kerja revidere atau recensere. Artinya melihat kembali, menimbang, atau menilai. Arti yang sama untuk istilah itu dalam bahasa Belanda dikenal dengan recensie, sedangkan dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah review. Tiga istilah itu mengacu pada hal yang sama, yakni mengulas buku.

Tindakan meresensi dapat berarti memberikan penilaian, mengungkap kembali isi buku, membahas, atau mengkritik buku. Dengan pengertian yang cukup luas itu, maksud ditulisnya resensi buku tentu menginformasikan isi buku kepada masyarakat luas.

Secara singkat, resensi ialah suatu tulisan atau ulasan mengenai nilai sebuah hasil karya. Tujuan resensi adalah menyampaikan kepada para pembaca apakah sebuah buku atau hasil karya itu patut mendapat sambutan dari masyarakat atau tidak.

Lebih detail lagi, tujuan resensi adalah:
  1. Memberikan informasi atau pemahaman yang komprehensif (mendalam) tentang apa yang tampak dan terungkap dalam sebuah buku.
  2. Mengajak pembaca untuk memikirkan, merenungkan, dan mendiskusikan lebih jauh fenomena atau problema yang muncul dalam sebuah buku.
  3. Memberikan pertimbangan kepada pembaca apakah buku itu pantas mendapat sambutan dari masyarakat atau tidak.

Setelah mengetahui definisi serta tujuan dari resensi yang dibuat oleh resentator, kira-kira unsur apa saja yang terkandung di dalam sebuah resensi?

Daniel Samad (1997: 7-8) menyebutkan unsur-unsur resensi adalah sebagai berikut:

Membuat judul resensi

Judul resensi yang menarik dan benar-benar menjiwai seluruh tulisan atau inti tulisan, tidakharus ditetapkan terlebih dahulu. Judul dapat dibuat sesudah resensi selesai. Yang perlu diingat, judul resensi selaras dengan keseluruhan isi resensi.

Menyusun data buku

Data buku biasanya disusun sebagai berikut:
  1. Judul buku (Apakah buku itu termasuk buku hasil terjemahan. Kalau demikian, tuliskan judul aslinya.);
  2. Pengarang (Kalau ada, tulislah juga penerjemah, editor, atau penyunting seperti yang tertera pada buku.);
  3. Penerbit;
  4. Tahun terbit beserta cetakannya (cetakan ke berapa);
  5. Tebal buku;
  6. Harga buku (jika diperlukan)

Membuat pembukaan

Pembukaan dapat dimulai dengan hal-hal berikut ini:
  • Memperkenalkan siapa pengarangnya, karyanya berbentuk apa saja, dan prestasi apa saja yang diperoleh;
  • Membandingkan dengan buku sejenis yang sudah ditulis, baik oleh pengarang sendiri maupun oleh pengarang lain;
  • Memaparkan kekhasan atau sosok pengarang;
  • Memaparkan keunikan buku;
  • Merumuskan tema buku;
  • Mengungkapkan kritik terhadap kelemahan buku;
  • Mengungkapkan kesan terhadap buku;
  • Memperkenalkan penerbit;
  • Mengajukan pertanyaan;
  • Membuka dialog.

Tubuh atau isi pernyataan resensi buku

Tubuh atau isi pernyataan resensi biasanya memuat hal-hal di bawah ini:
a. sinopsis atau isi buku secara bernas dan kronologis;
b. ulasan singkat buku dengan kutipan secukupnya;
c. keunggulan buku;
d. kelemahan buku;
e. rumusan kerangka buku;
f. tinjauan bahasa (mudah atau berbelit-belit);
g. adanya kesalahan cetak.

Penutup resensi buku

Bagian penutup, biasanya berisi buku itu penting untuk siapa dan mengapa.

Terakhir, bagaimana cara membuat resensi itu sendiri? Bagaimana langkah-langkah di dalam membuat resensi yang baik?


Ketika melakukan kegiatan meresensi, hendaklah perhatikan langkah-langkah meresensi buku sebagai berikut.
  1. Penjajakan atau pengenalan terhadap buku yang diresensi,mulai dari tema buku yang diresensi, disertai deskripsi isi buku,siapa yang menerbitkan buku itu, kapan dan di mana diterbitkan, tebal (jumlah bab dan halaman), format, hingga harga.Siapa pengarangnya: nama, latar belakang pendidikan, reputasi dan prestasi, buku atau karya apa saja yang ditulis, hingga mengapa ia menulis buku itu. Buku itu termasuk golongan buku yang mana: ekonomi, teknik, politik, pendidikan, psikologi, sosiologi, filsafat, bahasa, atau sastra.
  2. Membaca buku yang akan diresensi secara komprehensif, cermat, dan teliti. Peta permasalahan dalam buku itu perlu dipahami secara tepat dan akurat.
  3. Menandai bagian-bagian buku yang diperhatikan secara khusus dan menentukan bagian-bagian yang dikutip untuk dijadikan data.
  4. Membuat sinopsis atau intisari dari buku yang akan diresensi.
  5. Menentukan sikap dan menilai hal-hal berikut:
  • Organisasi atau kerangka penulisan; bagaimana hubungan antara bagian yang satu dan bagian yang lain, bagaimana sistematikanya, dan bagaimana dinamikanya.
  • Isi pernyataan; bagaimana bobot ide, analisis, penyajian data, dan kreativitas pemikirannya, bahasa; bagaimana ejaan yang disempurnakan diterapkan, kalimat dan penggunaan kata, terutama untuk buku ilmiah.
  • Aspek teknis; bagaimana tata letak, tata wajah, kerapian dan kebersihan, dan pencetakannya (banyak salah cetak atau tidak).
Sebelum menilai, alangkah baiknya jika terlebih dahulu dibuat semacam garis besar (outline) resensi itu. Outline ini sangat membantu kita ketika menulis, mengoreksi dan merevisi hasil resensi dengan menggunakan dasar dan kriteria yang kita tentukan sebelumnya.

Untuk melengkapi pemaparan mengenai resensi, saya sertakan bentuk resensi sebuah cerpen di bawah ini

RESENSI CERPEN

1). Indentitas Cerpen
  • Judul Cerpen: Setangkai Bunga Bermahkota Biru
  • Nama Pengarang  Umar Said
  • Tempat Terbit: Yogyakarta
  • Tanggal Terbit: 5 April 2009
  • Jumlah Halaman: 3 Halaman
  • Jumlah kata-kata: 1253 kata
2). Sinopsis Cerpen
Puspita, seorang gadis yang banyak tahu akan tentang makna bunga mulai dari jenis bunga, makna tiap bunga yang ia kenal, warna bunga, dan semua bagian-bagian bunga ia dapat mengartikan setiap bagian dari bunga yang dikenalnya. Suatu hari ada seorang pria dengan sangat memprihatinkannya duduk disebuah taman bersama seorang adiknya yang bermain di taman ditaman tersebut. Puspita yang heran lantas menghampiri seorang pria yang tengah termenung juga. Kebetulan juga pria tersebut menyukai bunga walaupun ia sempat berkata “Aku juga tidak tahu kapan aku mulai menyukai bunga” pria itu berkata kepada Puspita tentang satu bunga yang pernah pria itu milikki, tanpa enggan Puspita menikmati cerita pria tersebut. Sekuntum bunga bukan anggrek dan bukan juga mawar. Puspita yang mendengarnya langsung seloroh saja bercerita tentang bunga anggrek sepengetahuannya; “Aku mengenal anggrek. Tahukah kau, anggrek adalah simbol cinta, kemewahan, dan keindahan.” Si pria hanya menjawab “aku tahu.” “Bangsa yunani menggunakan anggrek sebagai simbol kejantanan. Dan bangsa tiongkok percaya aroma anggrek berasal dari tubuh kaisar mereka. Jika anggrek muncul di mimpi seseorang, hal itu dipercaya sebagai simbol dari kebutuhan akan kelembutan, romantisme, dan kesetiaan. Bahkan anggrek jadi bahan baku utama dari ramuan cinta. Begitu dahsyat bukan?” Gadis itu panjang lebar menceritakan kembali tentang bunga anggrek. Lama-kelamaan si pria justru ingin mendengar tentang bunga mawar dan dengan senang hati Puspita bercerita; “Dari budaya barat, kita mengenal mawar sebagai cinta dan kecantikan,” imbuh si gadis. Bahkan di Inggris mawar dijadikan bunga nasional. Di Kanada, bunga mawar liar merupakan bunga provinsi Alberta. Di Amerika Serikat, bunga mawar merupakan bunga negara bagian Iowa, North Dakota, Georgia, dan New York. “Mawar merupakan lambang dunia!,” teriak gadis itu lantang bersemangat. Puspita melanjutkan; “Biasanya untuk menyatakan seberapa besar cinta. Satu tangkai berarti cintaku hanya untukmu seorang. Dua tangkai, kau dan aku saling mencintai. Tiga tangkai, aku cinta kamu. “Semakin banyak, semakin kuat maknanya.” 100 tangkai, jadilah pasangan yang mengasihi sampai lanjut usia. 144 tangkai, mencintaimu pagi hingga malam selama-lamanya. 365 tangkai, memikirkanmu setiap hari, mencintaimu setiap hari. Hingga 1001 tangkai yang melambangkan cinta selamanya.” Si pria hanya berkata “banyak sekali, aku hanya memiliki setangkai.” Dan pria itu menekankan bila pria itu memiliki satu tangkai bunga namun memiliki banyak makna akan bunganya itu, lebih dari seribu tangkai, dan mengartikannya sebagai Cinta Sepenuhnya ujar pria itu, seketika membuat Puspita diam. Kemudian si Gadis bertanya kepada si pria tentang apa warna bunga pria yang dimiliki pria itu, sempat tidak ada jawaban dari mulut si pria. Puspita berkata;”Aku paham tentang warna-warna bunga.” namun akhirnya si pria berkata “bungaku berwarna biru.” Namun Puspita tidak percaya dengan diperkuat dengan pengetahuaannya tentang warna bunga; “Di mawar saja, merah lambang cinta romantis. Putih, kesucian dan rahasia. Merah jambu, keanggunan dan kelembutan. Kuning, persahabatan dan kegembiraan. Jingga, hasrat dan semangat, cinta yang mulai tumbuh. Tak ada warna biru,” jelas gadis itu. namun pria itu bersikeras bila bunganya berwarna biru;
“Tapi aku ingat, bunga itu bermahkota biru.”
“Apakah kau merasa kehilangan? Seperti aku kehilangan makna warna biru.”
“Bisa jadi.”
“Jadi warna itu tinggal kenangan? Mengapa kau tak memanamnya lagi?”
“Tidak.”
“Mengapa?”
“Karena aku takkan menanam bunga yang telah layu.”
Si gadis menatap heran. Ia tak mengerti. Seharusnya bukankah pria itu bisa menanamnya lagi. Lelaki itu hanya menatap taman yang penuh dengan bunga putih. Namun setelah berpikir beberapa saat, si gadis baru mengerti. Tiba-tiba langit mendung. Suasana sedikit temaram. Romantis. Titik-titik gerimis menyirami. Sejuk rasanya. Tercium aroma wangi tanah.
“Dan sekarang inginkah kau memiliki bunga lagi?”
“Tentu saja.”
“Benarkah?”
“Benar. Kenapa tidak.”
“Jika ada bunga berwarna biru, benar mau?”
“Yakin. Mau.”
“Kau tahu namaku Puspita?”
“Iya. Aku tahu.”
“Tahukah kau maknanya?”
“Tidak. Memangnya?”
“Puspita itu bunga. Sekarang jadikan aku bungamu.”
Seketika si lelaki mengalihkan pandang dari taman. Bola matanya haru menatap tajam ke gadis bergaun biru itu.

3). Analisis Unsur Instrinsik
  • Tema : Bunga yang Melambangkan Cinta
  • Setting : Suatu sore yang mendung di suatu taman dengan penuh bunga putih
  • Alur : Campuran
  • Tokoh : Si Pria kaku dan Puspita, gadis banyak tahu tentang makna bunga
  • Perwatakan: Si Pria ( kaku dan banyak diam ), Puspita ( cerdas dan sangat ingin tahu )
  • Sudut Pandang : Pengarang sebagai orang ketiga yang banyak tahu
  • Amanat : “Segala sesuatu yang telah tercipta dalam kehidupan ini tidak dilahirkan begitu saja tanpa makna dan sebuah arti. Contoh ringanya setangkai bunga yang tiap-tiap bentuk, jumlah tangkai, warna mahkota, dan harumnya. Seperti yang Puspita ceritakan. Jadi, semua yang ada pada kehidupan kita ini memiliki artinya sendiri sama seperti manusia yang memiliki arti hidupnya masing-masing dengan bunganya masing-masing.”
4). Analisis Unsur Ekstrinsik
  • Nilai moral : cinta selalu membawa keindahan bagi setiap memilikinya beribu-ribu kali indahnya dari memiliki seribu tangkai bunga mawar.
  • Nilai sosial : semua hal yang telah tercipta memiliki maknanya sendiri-sendiri, tidak terlahir tanpa mempunyai maksud dan tujuannya.
5). Keunggulan Cerpen
  • Menawarkan banyak pengetahuan didalam isi cerita cerpen ini seperti halnya makna bunga-bunga yang indah.
  • Bahasanya yang ringan dan mudah dimengerti.
  • Tokohnya terdiri dari dua tokoh yang membuat cerita menjadi satu-kesatuan cerita yang padu, tanpa menghadirkan tokoh yang berlebihan didalam cerita.
  • Ceritanya menganut cerita yang mudah dipahami oleh kalangan remaja saat ini sehingga memungkinkan menarik minat baca kaum muda.
6). Kelemahan Cerpen
  • Cerita yang terlalu panjang dan menggantung.
  • Pembaca harus benar-benar mengerti jalan ceritanya karena pemikiran pengarang yang tinggi sehingga ceritanya sulit untuk dicerna.
7). Kesimpulan
“Berdasarkan dari keungglan dan kelemahan cerpen diatas, sebagai perensensi suatu bacaan menilai cerpen atau bacaan ini layak untuk di publikasikan di masyarakat.”

Demikianlah artikel mengenai hakikat resensi serta contoh resensi cerpen. Untuk mengetahui format resensi drama, silakan simak artikel mengenai Contoh Format Resensi Pementasan Drama. Semoga artikel ini dapat memberikan manfaat dan menambah pemahaman ihwal kegiatan meresensi. Akses-Ilmu

Resensi Pementasan Drama

Resensi Pementasan Drama


Contoh Format Resensi Pementasan Drama. Akses Ilmu kali ini akan menerangkan mengenai format resensi dengan jenis kategori resensi drama. Bagaimana format atau struktur resensi dan apa saja yang harus di bahas di dalamnya, berikut penjelasannya.

I. Data Pementasan:
  1. Kelompok Pementas : Mahasiswa FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia UNS angkatan 2007
  2. Bentuk Pementasan : Teater (didokumentasikan dalam bentuk CD)
  3. Naskah : Potret (terlampir)
  4. Waktu Pementasan : Akhir semester enam, tahun 2010 Pukul 09.00 – selesai
  5. Tempat Pementasan : Teater Arena TBJT, Surakarta.
  6. Penonton : Dosen FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia, Mahasiswa FKIP dari berbagai angkatan, Mahasiswa dari fakultas lain, dan Mahasiswa dari luar UNS.
  7. Pementas : Mahasiswa FKIP PBSI UNS angkatan 2007
  • PLECIT : diperankan oleh Aprika
  • YU SRI : diperankan oleh Ika Hindriyati
  • YATI : diperankan oleh Winarni
  • GINO  : diperankan oleh Retno
  • GUNDHUL : diperankan oleh Ratih Riandini P.
  • PAK BEI : diperankan oleh Auriga Maulana K
  • BU BEI : diperankan oleh Meilinda
  • MBAH DUL : diperankan oleh Hery Jerry Bintang
  • MAS PON : diperankan oleh Aditya Permana S.
  • KARMIN : diperankan oleh Ciptono
  • MINDRING : diperankan oleh Rosika

II. Ringkasan Isi Pementasan:

Dalam teater yang berjudul POTRET yang dipentaskan oleh mahasiswa FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Sebelas Maret Surakarta angkatan 2007 ini mengisahkan tentang kehidupan di perkampungan kumuh yang mana masyarakatnya tidak mempunyai semangat untuk bekerja keras membanting tulang. Keseharian masyarakat tersebut hanya melalukan perjudian yang menggantungkan nasib dari kemujuran judi Cap Ji Kia.

Kisah ini terfokus pada kisah keluarga yang berantakan antara Pak Bei dan Bu Bei yang sering bertengkar. Konflik tersebut muncul karena Pak Bei yang suka menghabiskan uang hanya untuk bermain Cap Ji Kia. Sedangkan sebagian perempuan hanya menghabiskan waktunya dengan aktivitas saling mencari kutu (petan). Pak Bei merupakan sosok pria yang mudah marah, tempramen dan sering berbicara kasar, tidak hanya dengan istrinya tetapi juga dengan tetangga yang ikut campur urusan keluarganya. Sedangkan Bu Bei merupakan istri yang selalu mempedulikan nasib anaknya agar menjadi anak yang pintar dan tida lupa sembahyang, sabar, dan selalu menasihati kepada suamunya. Tak pelak, hal itu sering mengakibatkan percekcokan di dalam rumah tangga. Kemarahan dalam rumah tangga tersebut sering membuat berisik para tetangga karena suaranya yang keras dan tidak mempunyai malu bila didengar para tetangga.

Ketika itu Pak Bei datang sembari mengelus-elus kepala ayam yang sering dipeliharanya. Di samping rumahnya terlihat Gino dan Gundhul yang sedang asik bermain cap jikia dan Yu Sri dan Yati yang saling mencari kutu kepala. Melihat itu, Pak Bei meneruskan bermain seket, mengotak-atik nomor yang sekiranya nanti keluar dalam jap jikia. Tidak lama, terdengar suara Mbah Dul yang sedang mencari cucunya. Ketika Mbah Dul bertanya kepada Pak Bei mengenai anaknya, Pak Bei menjawabnya dengan jawaban yang tidak mengenakkan. Masalah itu bertambah panjang ketika keduanya saling berdebat dan tidak hanya membicarakan masalah Mbah Dul, tetapi sampai masalah anjing yang dibawa-bawa, masalah cap jikia, sampai masalah ibadah dan surga.

Pertengaran semakin memuncak ketika Bu Bei berusaha menasihati Pak Bei yang hari-hari selalu bermain “sonji”. Hal tersebut membuat hati Pak Bei terasa panas. Mendengar suara Mbah Dul yang tiba-tiba menyahut dari dalam membuat tambah terbakar hati Pak Bei. Suasana kemarahan tersebut tergambar dalam cuplikan dialog antara Pak Bei dan Mbah Dul seperti berikut.

“Wis, wis. Wong yen ra mudheng agomo, isine mung ngeyel. Koyo ngono kok ngaku-aku santri, anak kyayi! Ojo ngino karo agomo, kowe bakal dhadi intipe neroko!”
“Suwargo, neroko kuwi urusane sok mben, Mbah. Sing penting saiki niki nggih dhuwit. Mung dhuwit, Mbah.”
“Dhuwit lan bondho, kuwi mung titipan, ora langgeng. Opo kowe ning kubur arep sangu dhuwit lan bondho!”
“Pokoke sing penting saiki, sing kuwoso saiki, kuwi mung dhuwit, dhuwit. Ndhuwe dhuwit akeh, arep ngopo-ngopo ki sarwo gampang. Bedho yen ra dhuwe dhuwit, sak enggon-enggon mung dhi anggep remeh. Wong ndhuwe dhuwit kuwi mulyo. Kuwoso. Sak uni-unine payu. Abang iso dhadi ireng. Ireng iso dhadi pitih. Kuwi wong sing dhuwe dhuwit. Bedho yen ora dhuwe dhuwit. Pol-pole mung dhadi pesakitan. Dhadi gedhibal.
“O…dhelalah wong ki yen ra dhuwe iman. Dikandani malak khutbah. Titenono, kowe arep nemoni opo ! Ciloko saklawase kowe !”
“Ciloko yo ben, iki urusanku dhewe. Kowe ra sah melu-melu. Urusen awakmu dhewe. Wong tuwo ra pantes diajeni. Ora nggolek dhalan padhang, malah nggawe perkoro. Kok koyo wis tau ngerti suwargo, neroko. Titik wae yo dhurung, kok kakehan cangkem.”


            Selang berlalu, Mas Pon, tambang cap jikia, datang menghampiri Pak Bei yang memberitahu bahwa Pak Bei kalah lagi dalam judi. Keberadaan Mas Pon membuat sangat marah Bu Bei karena menghasut Pak Bei agar menjual ayam satu-satunya itu dan uangnya untuk memasang cap jikia. Kemarahan Bu Bei tak terbendung lagi ketika Pak Bei dihampiri Si Mindring yang ingin menagih hutang kepada Pak Bei karena hutang-hutangnya yang tidak sengaja diketahui istrinya. Ternyata Pak Bei selain mempergunakan uang yang seharusnya untuk menafkahi keluarga tetapi digunakan untuk bermain judi cap jikia, ternyata tanpa sepengetahuan Bu Bei, Pak Bei juga berusaha meminjam dan hutang di luar-luar. Sayangnya, kemenagan pun tak kunjung didapatkan. Yang didapat hanya luapan kemarahan sang istri dan depresi yang semakin menjadi-jadi karena ingin dilaporkan kepada polisi andai hutangnya tidak segera dilunasi. Sang istri pun semakin marah dan meninggalkannya. Ending tersebut diakhiri dengan menggantungnya Pak Bei yang menjadi penutup dari cerita terebut.

III. Isi Resensi:

a. Aspek bentuk:

Dilihat dari aspek bentuk, menurut saya pementasan Teater ini cukup baik, dengan melibatkan pemain yang jumlahnya lumayan banyak. Sangat baik karena penggambaran suatu kehidupan masyarakat dan rumah tangga ditampilkan dengan begitu hidup dan nyata sesuai dengan karakteristik dari cerita yang diangkat. Selain itu, waktu persiapan untuk pementaan drama ini cukup lama sehingga persiapan semakin matang. Setting di perkampungan kumuh sangat mencerminkan masyarakat kelas bawah. Ditambah bahasa yang dipakai bahasa jawa asli, membuat pementasan semakin hidup dan mudah dipahami, mudah mengena di hati.

b. Aspek isi:

Dilihat dari aspek isi, Teater ini sangat sesuai dengan realitas kehidupan manusia. Teater ini mampu mengkat salah satu bentuk kehidupan yang nyata terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Pemain mampu memerankan sesuai dengan perannya secara ekspresif.

Di samping itu, dalam Teater ini mengandung pesan moral yang ingin disampaikan kepada penonton bahwa kesuksesan tidak bisa ditempuh dengan jalan pintas yang instan, tetapi membutuhkan kerja keras. Selain itu, pementasan ini berusaha menyadarkan bahwa judi hanya akan membawa kemiskinan dan tidak akan membawa kekayaan.

c. Kelebihan:

Teater ini sangat menarik. Teater yang diperankan oleh beberapa orang ini bisa dikatakan sukses dan menampilkan yang terbaik. Dari segi keaktoran, hampir sebagian besar pemeran memerankandengan menerapkan teknik keaktoran, terlihat dari ekspresi, gesture, vokal, dan artikulasi yang baik dalam berdialog. Setiap pemain mampu memerankan dan menghayati sesuai dengan perannya. Waktu pementasan juga tidak terlalu lama. Selain dari itu, dalam setiap adegan selalu ada kejuta-kejutan yang tidak terduga. Sehingga penonton penasaran adegan dengan adegan berikutnya.

Pemeran utama mampu menggiring penonton kedalam suasana tegang maupun tertawa. Dengan kemunculan Karim yang merupakan tokoh orang gila membuat suasana menjadi cair dan penuh kelucuan setelah ketegangan. Dialog-dialog yang dipakai pun menggunakan dialog sehari-hari yang memjadikan nilai tambah dalam pementasan naskah drama ini. Di dalamnya terdapat percakapan ringan, sampai percekcokan yang menjadikan tensi semakin memanas. Kelebihannya, setiap tensi meningkat disusul juga dengan suasana cair penuh canda tawa yang kemudian menjadi memanas lagi, membuat penonton seolah-olah dibolak-balikkan perasaannya.

Pementasan Teater ini sangat banyak banyak manfaatnya, Loren E. Tayilor via P. Hariyanto mengemukakan manfat mempelajari drama adalah memperluas wawasan budaya, membantu pembentukkan suara, mengembangkan keserasian gerakan, mengembangkan apresiasi terhadap keindahan, mengembangkan kesedapan sikap, mengembangkan daya imajinasi, menyediakan rekreasi sehat, mengembangkan apresiasi sastra, mengembngkan ekspresi diri, mengembangkan sikap kerja sama, mengembngkan rasa percaya diri, mengembangkan rasa tanggung jawab, mengemnagkan kontol pribadi, dan memperkuat daya ingatan.

d. Kekurangan

Suatu pementasan pasti ada kelebihan dan kekurangan, begitu juga dengan Teater yang dipentaskan oleh angkatan ini. Salah satu kekurangan dalam pementasan teater ini, penonton kurang nyaman ketika pergantian setting. Menurut saya pergantian setting terlalu lama, sehingga penonton merasa jenuh. Selain itu, waktu black out panggung masih terlihat samar-samar, jadi ketika perekap mengganti properti masih terlihat oleh penonton.

Selain itu, para tokoh yang memerankan sesosok pria sebagian diperankan oleh perempuan. Hal tersebut dikarenakan jumlah pemain laki-laki tidak mencukupi untuk menjalankan pementasan tersebut sehingga terpaksa beberapa perempuan di make up layaknya seperti laki-laki.

e. Kesatuan

Dari kesatuan, Teater ini telah memiliki unsur kesatuan. Hal ini dapat dilihat dari setting yang sesuai dengan apa yang diceritakan. Kesatuan tersebut juga tidak terlepas dari bentuk drama yang berbentuk drama satu babak. Selain itu, adegan demi adegan berjalan mengalir yang menjadi satu kesatuan. Klimaks terlihat jelas di akhir pementasan dan itu direspon dengan baik oleh penonton.

f. Keseluruhan

Secara keseluruhan Teater bagus. Semua pemain bermain dengan ekspresif sesuai dengan perannya, setting juga sesuai, berani menampilakan salah satu sisi kehidupan nyata yang terjadi di masyarakat dalam hal ini masyarakat kota besar.

g. Keragaman

Dilihat dari keberagaman, Teater ini cukup beragam khususnya dalam menampilakan watak dan karakter setiap tokoh. Dengan jumlah pemain yang bisa dikatakan cukup banyak, Teater ini mampu memerankan kondisi yang beragam. Hal tersebut tergambar pada tokoh Pak Bei yang mempunyai karakter tempramen, Bu Bei yang perhatian dan suka menasihati, Mbah Dul yang sering mengurusi masalah orang lain demi kebaikan, Mas Pon yang menjadi tambang cap jikia yang membujuk dan mempengaruhi, masyarakat-samysarakat sekitar yang juga sering bermain cap jikia, para wanita yang kerjaannya mencari kutu kepala untuk menghabiskan waktu, sampai kepada tokoh dan karakter orang gila.

h. Intensitas

Dilihat dari segi intensitas, Teater ini sangat sesuai dengan keadaan di jaman modern, khususnya di perkampungan. Pesan moral yang disampaikan cukup sesuai dengan apa yang terjadi dalam kehidupan nyata.

VI. Penutup

1. Kesimpulan

Dari pementasan Teater angkatan 2007 dapat disimpulakan bahwa apa yang dipentaskan sudah bagus dan sesuai dengan realitas kehidupan di masa sekarang. Dilihat dari aspek bentuk, aspek isi, intensitas, keragaman, dan kesatuan sudah sesuai.

2. Saran

Seperti yang sudah di tulis pada bagian kekurangan, pergantian setting terlalu lama, sehingga penonton merasa jenuh. Selain itu, waktu black out panggung masih terlihat samar-samar, jadi ketika perekap mengganti properti masih terlihat oleh penonton. Sebagai saran, supaya pergantian setting lebih dipercepat sehingga penonton tidak menunggu terlalu lama.

LAMPIRAN

POTRET
DRAMA 1 BABAK

Karya Marsudi WD.

Diketik ulang dan editing oleh Hardjito
Naskah pertama kali diproduksi oleh
Sanggar Teater Kidung
Surakarta
Setting:

Cerita ini terjadi di perkampungan kumuh, bekas kuburan.

Kegiatan orang-orang di perkampungan di depan rumah Yu Sri, beberapa ibu-ibu berkumpul. Ada yang sedang mencari kutu (Jawa petan). Sayup-sayup terdengar suara seseorang belajar membaca Al-Qur’an.

PLECIT             : Yu, Pak Bei teng ngomah nopo mboten nggih?

YU SRI              : Sajake kesah niku. Lawange tutupan to?

PLECIT             : Tutupan ning mboten digembog.

YATI                 : Nyat niku mboten tahu gembok kok. Nggo, niki lebon

                             kulo....Kirang pinten?

PLECIT             : Sampeyan kurang telu. Yu Sri kurang papat. Gek mben

                             nunggak siji to? Suk mben gek nyaruk melih.

YU SRI              : Aku ora arep njukuk. Anakane kokehan Mas.

PLECIT             : Dicicil sithik-sithik, rak ora kroso to?

YU SRI              : Pokoke, aku ra arep njikuk disik. Bojoku muni-muni e..

PLECIT             : Yowis terserah mriku. Sing penting dilunasi disik. Rak koyo

Pak Bei niku....Yen ajeng njikuk mesthi ngetoke rembuk manis. Bareng cicilane....blong terus.

YATI                 : Kulo rak ra tahu blong to, Mas Plecit?

PLECIT             : Lha, nek sregep koyo sampeyan, ajeg terus, suk mben entuk

hadiah gelas. Pun nggih, kulo tak mubeng riyen. Mengkeh nek enten Pak Bei nopo Bu Bei, sampeyan omongke nek kulo mriki nggih. (EXIT).

YU SRI              : Nggih, yen mboten lali.

AMAT               : Ora Pak Bei kuwi kok isih kober utang plecit barang.

YATI                 : Jenenge menungso, Mas, sarwo kurang lan kurung.

YU SRI              : Lho, Bu Bei iki mau ki ning endi to?

AMAT               : Yo embuh..

GINO                 : Gajege mau ki ngumbahi ninggone Bu Haji Basri. Yo to Ndhul?

GUNDHUL       : Yo embuh. Aku ra ngerti.

GINO                 : Mau lho, gek awake dewe liwat sumure Bu Haji mau..

GUNDHUL       : Aku ora ngerti No.

GINO                 : Sing mbuk ulatke mung kertu karo sonji wae..

AMAT               : Podho karo kowe to?

2. Ketika mereka sedang asyik ngobrol, tiba-tiba mencul Pak Bei membawa ayam babon.

GUNDHUL       : Waaah,,,sajake ajeng ternak nopo, Pak Bei?

Pak Bei               : Pitik siji kok ternak. Yo mung nggo ndhog-ndhogan, rak keno

                             nggo lawuh karo nggo jamu.

YATI                 : Anu Pak Bei, wau enten sing madosi.

PAK BEI           : Sopo?

YATI                 : Mas Plecit.

PAK BEI           : Yow is ben. Kuwi rak gaweane to..?

YU SRI              : Wau muni-muni lho, Pak Bei.

PAK BE             : Kuwi wis gaweane.. la Mas Pon mau wis rene po dhurung?

GINO                 : Nek awan niki wau dhereng

PAK BEI           : Lha mau esok metune opo?

GINO                 : Sepisan wau nem cino

PAK BEI           : Lha ping pindho?

GINO                 : Dimpil, terus ratu, pak Bei

Yu SRI               : Mas Gundhul, iki wis awan lho, malah meh sore

GUNDHUL       : Sore yo neng ngopo?

YU SRI              : Yen wis ngeloni kertu rak lali langganane to, bakule jamu

GUNDUL          : ( TERSENYUM) Wah iyo, aku cabut sik. Dhuwe sanggeman

                             ngeterke Yu Tinem nang pasar

YATI                 : Alah......liane sanggeman sing penting rak senggolane to.....

Semua tertawa lalu masuk ke rumah masing-masing

PAK BEI           : No, aku tulung tembakno babine mas Pon yo

PAK BEI BARU ASIK NYEKET MEMPERHATIKAN PAITO, MENGURUTKAN KARTU-KARTU ANGKA YANG KELUAR, DARI DALAM TERDENGAR SWARA RADIO.

DARI TEMPAT AGAK JAUH MBAH DUL MEMANGGIL-MANGGIL CUCUNYA, DARIM DAN LALU BERTANYA PADA BEBERAPA ORANG TETANGGANYA.

PAK BEI           : Nem cino,babi, plompong.........ratu, babi, nem cino neh. Iki

 mau sepisan nem cino, terus dimpil, ratu…. Apa sidho

 mbangoling no iki mengko.. wis, wis genah nggoling.  Nggoling. Lha yen sido nggoling……. Yen sido nggoling

MBAH DUL     : Yen sidho nggoling kendile....yo kaliren no iki mengko

PAK BEI           : Mbah kendhilee sopo sing nggoling?

MBAH DUL     : Jare kendhil mu?

PAK BEI           : Mbanggoling, budeg. Wong tuwo ra mudeng seket.

MBAH DUL     : Opo, sikat? Nek mun g sikat, galo...nggonku pirang-pirang

PAK bei             : Oo.........jan budeg tenan iki. Seket pikun, seket! Niku lho ngothak-athik ongko. Nek meng masalah ngothak-athik, ngolah ongko, pak bei ora kalah karo Pak guru kulon mriku sing saben dhino mulang ethung matematika niku.

MBAH DUL     : Wis, wis. Ra sah nyangking sopo-sopo, mengko yen krungu dhadi rame. Aku iki mung arep takon, opo putuku dholan neng ngomah mu?

Pak bei               : Mbah, sing ndelike putune sampean niku sopo?

MBAH dul         : Lho.biasane rak dholan karo anakmu Si Mahmud to?

PAK Bei            : Mahmud mboten enten teng ngomah. Pol-pole thek kliwer sobo langgar mriku

MBAH DUL     : Aku iki seko langgar, biasane ki yo melu jamangah nasar karo anakmu lanang kwi, lha iki mau kok ora ngetok

PAK BEI           : Pun,pun. Kulo mboten ngerti putu sampeyan.

MBAH DUL     : Mau awan ki rebutan lemperkaro pleki kirikmu kuwi, terus dhadi oyak-oyakan

PAK BEI           : Mbah, kirik ora opo-opo diusangkut-sangkut

MBAH DUL     : Ora opo-opo pite? Kirikmu sing ngglathak. Ra tau kok pakani, terus nyrondol lempere putuyku.

PAK BEI           :Mbah, sampeyan niku mboten sah ngenyek. Pleki niku pakanane seben dino iwak terik dhendheng. Mbah dhendheng.

MBAH DUL     : Halah terik opo? Dhendheng opo? Dhit ko ngendhi, cobo....?

PAK BEI           :Mengke yen nembus no.

MBAH DUL     : Nembus druwang! Mulo to mulo ra sah open-open kirik, ra wurung ngrusuhi pangan tanggane.

PAK BEI           : Kuwi jenenge ngajak gojek!  Ngajak kekancan, mbah!

MBAH DUL     :Kekancan kok karo kirik, yen nganti dhiembus ki najis, goblog !

PAK BEI           :Halah, najis-najis opo ! Yo ra marahi sugih to !

MBAH DUL     :Oo… Dasar wong ki yen ra mudheng agomo, ndhelalah.

PAK BEI           :Sampeyan niku sing fanatik ! Dhasar santri anyaran, koyo resik-resiko dhewe. Sampeyan niku cethek agamane, Mbah !

MBAH DUL     :Cethek yo ben, sing penting ngibadhahe.

PAK BEI           :Cilikan kulo Mbah, sobo kulo leng mesjid. Ngaji ajek, omah kulo niku nemplek mesjid.

MBAH DUL     :Mesjid ngendhi ? Aku ki ngerti omahmu biyen. Rak etan tanggul kono to ?

PAK BEI           :Bapak kulo niku, Kyai, imam mesjid.

MBAH DUL     :Kowe ki ra idhep isin. Ngaku anak Kyai kok gaweane nyonji, sholate gothang.

PAK BEI           :Wis, ora sah ngajak rame ! Sampeyan niku wong tuwo, ra sah nyampuri urusane wong liyo.

MBAH DUL     :Aku ra arep nyampuri urusanmu. Kowe sing marahi ngajak rame. Di elingke malah madhoni. Bakal nemu opo kowe Bei…Bei !

PAK BEI           :Nemoni dhuwit. Wong tuwo ora golek dalan padhang !

MBAH DUL     :Opo kowe mati arep nggotong dhuwit ? Sing penting ngibadhah. Golek suwargo. (TERUS BERJALAN MASUK KE DALAM RUMAHNYA)

PAK BEI           :Suwargo kuwi biso dituku nganggo dhuwit, lho Mbah ! Dhuwit kuwi rojo, goblog !

MBAH DUL     :Kuwi jenenge raja setan ! Intip neroko, goblog dhewe !

PAK BEI KEMBALI MENGOTAK-ATIK PAITO, MAS PON (TAMBANG CAP JI KIA), DATANG.

MAS PON         :Wah, kurang sithik Pak Bei.

PAK BEI           :Metune opo, Mas Pon ?

MAS PON         :Kerok, Pak Bei.

PAK BEI           :Waduh, blong meneh. Dhit tukon mbako sidho amblas no.

MAS PON         :Sopo ngerti mengke nembus Pak Bei, rak keno nggo balen.

PAK BEI           :Saiki sasmitane opo, Mas Pon ?

MAS PON         :Niki, Pak Bei… Bubar adhus klambine putih.

PAK BEI           :Bubar adhus klambine putih…? (BERPIKIR) Halah. Kuwi rak Pak Lurah arep jagong to, Mas Pon ?

MAS PON         :Pak Bei ki senengane kok guyon. Mengke yen krungu Pak Lurah lo.

PAK BEI           :Lha Denmase kulon kono nembak opo, Mas Pon ?

MAS PON         :Nek miturut Denmase, niku wau disonji gunting.

PAK BEI           :Elho…Denmase kuwi piye to. Koyo ngono kok disonji gunting. Mosok Mas Pon, neng nggunung kok nganggo klambi putih, kuwi rak Pak Kaji arep kemping to kuwi. (KEDUANYA TERTAWA). Lha yen Mas Guru nembak opo ? Kae biasane ces pleng lho.

MAS PON         :Mas Guru sing pundi to Pak Bei ?

PAK BEI           :Halah, kuwi lho kidule Mas Carik kuwi.

MAS PON         :O…, Mas Kliwon to. Nopo niku guru to, Pak Bei ?

PAK BEI           :Kliwon kuwi mbiyen, rak tahu nglumpukake cah cilik-cilik to, terus diwuruki etung-etung opo matematika, terus dho kon mbayar piro ngono lho.

MAS PON         :Niku rak mbiyen to Pak Bei. Mas Kliwon niku sak niki klesetan teng ngisor ringin Gladag meriku, bakul akik. Pun Pak Bei, sak niki pasang nopo ? Kulo selak setoran.

PAK BEI           :Petik wae Mas Pon, pitu seket; ratu, limang atus; babine sing rong atus seket. (TIBA-TIBA BERDATANGAN ORANG-ORANG IKUT PASANG CAP JI KIA. SETELAH SELESAI, MAS PON PERGI, DAN ORANG-ORANG PUN BUBAR). E…, mugo-mugo nyanthol, keno nggo tuku mbako.

MBAH DUL     :(DARI DALAM). Angger mentrine tambang teko, koyo pasar pindah. Tumbu entuk tutup.

PAK BEI           :Wis mangap meneh. Mingkemo, rak bagus Mbah ! (PAK BEI KEMBALI MENGAMBIL PAITO, NYONJI).

BU BEI PULANG, MELIHAT PAK BEI NYONJI.

BU BEI              :Cap ji kia meneh, Pak ?! Dhino-dhino gaweane liyane nyonji ra eneng meneh. Pak, sing ngudang babi kalih ratu niku mbok leren.

PAK BEI           :Ngadang-ngadang tetese embun, mbok menowo nembus.

BU BEI              :Nembus nopo ?! Nembus kertas niku ? Kulo niku nganti isin lho Pak, saben pengajian ibu-ibu mesthi nyinggung masalah cap ji kia. Roso kulo rak nggih melu isin to Pak !

PAK BEI           :Ora sah digagas. Kuwi rak wong sing ora ngerti kebutuhane wong liyo. Mengko yen nembus, rak keno nggo tuku beras, lan nggo anakmu rak yo biso tuku buku. Dadi melu mulyo kabeh.

BU BEI              :Mulyo nopo ?! Mangan nopo ?! Pundhi sampeyan tahu nembus ! Tahu nukoke beras, bukune bocah-bocah. Pundhi ?! Kapan ?!

PAK BEI           :Wis ! Ra sah di dhowo-dhowo !

BU BEI              :Sing marai rak nggih sampeyan niku. Kulo pun rewangi sobo mbanyu, tangan nganti nglocop kabeh, buruh ngumbahi, buruh nyletiko, mung sampeyan dhewe sing ngentek-ngenteke neng cap ji kia, togel, gonggong, thothit, peki…

PAK BEI           :Wis ! Iso meneng po ora !

BU BEI           :  Yen aku muni mesthi dhadi rame. Yen ra arep muni kok yo kebangetan. Ra idhep isin ! O…alah Pak, Pak ! Koyo ngono kok biyen ngakune santri dheles. Jebul yo mung dhudho gombal !

PAK BEI        :  Kem. Kowe ki iso meneng po ra ! Wong wedhok nggone mburi, ra sah kakean crewet ! Ra sah ngurusi wong lanang. Kowe kuwi mesthine wis bejo tak angkat dhadhi bojon Bei. Pomo ra, kowe arep dhadhi opo ! Pol-pole yo mung babune Bu Kaji !

BU BEI           :  Babu yo ben, ning rak halal. Kringete dhewe. Meres tenogone dhewe. Angger dikandani mesthi dhadhi rame. Sampeyan niku ra idhep isin. Sing jarene putrane kyai, oalah Pak. Pak… anak sampeyan men sholat lan ngajine apik, ajeg. Sobone mesjid. Ning kok bapake gaweane malah nyonji, niku nopo ra ngisin-ngisini !

PAK BEI        :  O… Dhadhi cethane sing marahi bocah ora omahan ki kowe to ! Bar klepat ning langgar, bar madang ning langgar, wancine sinau ning langgar, terus omahe ki dianggep opo !

BU BEI           :  Mulo nggih Pak, sampeyan niku sok nggagas anak, ampun nomer mawon. Si Mahmud niku saben bubar maghrib ajar ngaji, ajar agomo sing bener, karo Si Darim putune Mbah Dul barang niku. Lha mengke yen bubar ngisak, terus diwuruki sinau pelajaran sekolah.

PAK BEI        :  Sing ngajari kuwi sopo, kok turah-turah men wektu

BU BEI           : Sing muruki sinau niku Mas Dhahlan, sing mucal teng     SD Muhammadiyah niku, sing mondhok nggene Bu Kaji niku.

PAK BEI        : Opo sinau neng ngomah ki ra iso, ndhadhak tkan kono-kono!

BU BEI           : Pak, sampeyan niku mbok rumongso. Omahe niku sempit, lampune teplok melik-melik. Yen teng mriko, rak padhang. Lampune neon. Biyen ngganthol listrik nggone Pak SAryono sampeyan pedhot!

PAK BEI        : ngganthol listrik kuwi nglanggar hukum.

BU BEI           : Halah… Niku rak alesane sampeyan mawon. Buktine, pundhi enten sing mlebu teng paukuman? Rak mboten enten to.

PAK BEI        : Wis, wis. Ra sah kakean cangkem. Mengko yen nimbus, pasang dhewe. Sepiro to ragate?

BU BEI           : O…alah Pak. Pak. Mbok nyebut, sing arep nggo pasang   ki kertas opo? Senenge njagake ndhoge si bhlorok. Iyo yen netes, lha yen buthuk…! Ra sah ngoyo woro Pak, Pak !

PAK BEI        : Sing marahi raqk yo kowe to ! Wong wedhok isine mung kakehan cangkem, senenge mung maidho !

BU BEI           : Sing maidho nggih sampeyan niku ! (SAMBIL MASUK KE DALAM RUMAHNYA) Wong kok ra idhep isin !

PAK BEI        :  Wis, iso meneng po ra !

DARI DALAM RUMAH, MBAH DUL IKUT-IKUTAN BICARA

MBAH DUL  : Brontojudha meneh… Saben byar kok brontojudha ra leren-leren. Opo pancen danyange kene ki seneng lakon brontojudha yo… janjane, sepiro to abote wong sholat. Sepiro to rekasane wong sholat. Ok yo angel…….

PAK BEI        : (MENYAHUT, DINYANYIKAN) Sholat oleh, ra sholat oleh……….

MBAH DUL  : Malah ngece ! titenono, agomo kuwi mukti. Sholat kuwi cagake agomo, goblog !

PAK BEI        : (MENGULANG BERNYANYI LAGI) Sholat oleh, ra sholat oleh……….

MBAH DUL: O....ndhelalah. wong ki yen ra mudheng agomo ! Dikandhani malah ngece. Wong urip nang endi parane, yen ra mati. Wong mati kuwi sanguine ngibadhah, sholat, lan ngamal .

PAK BEI        : (MENGULANG BERNYANYI LAGI) Sholat oleh, ra sholat oleh……….

MBAH DUL : Wis, wis. Wong yen ra mudheng agomo, isine mung ngeyel. Koyongono kok ngaku-aku santri, anak kyayi! Ojo ngino kaaro agomo, kowe bakal dhadi intipe neroko!

PAK BEI        ; Suwargo, neroko kuwi urusane sok mben, Mbah. Sing penting saiki niki nggih dhuwit. Mung dhuwit, Mbah.

MBAH DUL  : Dhuwit lan bondho, kuwi mung titipan, ora langgeng. Opo kowe ning kubur arep sangu dhuwit lan bondho !

PAK BEI        : Pokoke sing penting saiki, sing kuwoso saiki, kuwi mung dhuwit, dhuwit. Ndhuwe dhuwit akeh, arep ngopo-ngopo ki sarwo gampang. Bedho yen ra dhuwe dhuwit, sak enggon-enggon mung dhi anggep remeh. Wong ndhuwe dhuwit kuwi mulyo. Kuwoso. Sak uni-unine payu. Abang iso dhadi ireng. Ireng iso dhadi pitih. Kuwi wong sing dhuwe dhuwit. Bedho yen ora dhuwe dhuwit. Pol-pole mung dhadi pesakitan. Dhadi gedhibal.

MBAH DUL : O…dhelalah wong ki yen ra dhuwe iman. Dikandani malak khutbah. Titenono, kowe arep nemoni opo ! Ciloko saklawase kowe ! (SAMBIL BERANJAK PERGI)

PAK BEI        : Ciloko yo ben, iki urusanku dhewe. Kowe ra sah melu-melu. Urusen awakmu dhewe. Wong tuwo rap antes diajeni. Ora nggolek dhalan padhang, malah nggawe perkoro. Kok koyo wis tau ngerti suwargo, neroko. Titik wae yo dhurung, kok kakehan cangkem.

BU BEI           : (DARI DALAM RUMAH) Empun to Pak, empun. Mbok ngalah. Senenge kok geger koyo dhonyo arep kiyamat. Dirungoke tonggo teparo ray o ngisin-ngisini.

PAK BEI        : Wis, arep melu ngroyok pisan po piye !

PAK BEI JENGKEL HATINYA, SELANG KEMUDIAN, IA MENYALAKAN ROKOK, KEMUDIAN MENGEMBANGLAH SENYUMNYA.

PAK BEI        : Urip kok dho digawe ngrekoso, dhemen cekak umure

TIBA-TIBA KARMIN. SI ORANG GILA MUNCUL. IA BAK EORANG PRAJURIT MAJU KE MEDAN PERANG. JALANNYA BERGAYA. MATANYA MENYELIDIKDAN SELANG KEMUDIAN IA MENYANYIKAN LAGU MAJU TAK GENTAR TAPI TAK SELESAI. TIBA-TIBA IA BERTIARAP MEMBIDIKKAN SENPANNYA. SESAAT KEMUDIAN BERDIRI TEGAP DAN MENGHORMAT LALU MENANGIS.

KARMIN       : Saudara-saudaraku, kenapa kau tinggalkan Karmoin sendirian. Kau kejam ! Kau tega ! Aku kan pahlawanmu. (LALU MENYANYIKAN LAGU GUGUR BUNGA DAN TIBA-TIBA….) Awas…! Kita telah dikepung musuh ! Ciaaat… Hep ! Tiaraaaaap !! Doe..dor..dor..dor dor !! Retetetetet…….. mDor, dor ! Mampus kau anjing ! Dor, dor ! (TERTAWA) Ha..Ha…Ha.. Kita menang, kita menang. Merdeka ! Merdeka ! (TERUS TERTAWA GIRANG)

PAK BEI        : (MEMPERHATIKAN KARMIN) Koyo kuwi, netral. Ra rumongso dhuwe dosa.

KARMIN MENUJU PELATARAN RUMAH PAK BEI, LANTAS IA MENODONGKAN SENAPAN KE ARAH PAK BEI

KARMIN       : Ciaaat ! Ciaaat! (BERGAYA BAK NINJA) Ayo serang aku ! Ciaaat ! Hep ! Modyar kan ! (TERTAWA LAGI) Ha Ha Ha

PAK BEI        : (MENGHINDAR) Min, Min. ojo sembrono !

KARMIN       : Kamu Belanda, belum kenal siapa aku he ! Aku pendekSar tongkat sakti! Ciaaat !

PAK BEI        : Min, Min. ojo sembrono !

KARMIN       : Kamu mau lari ke mana Belanda?  HAyo, sebut namaku pendekar tongkat sakti ! Bukan Karmin !

PAK BEI        : Hiyo, iyo… Pendekar tongkat sakti.

KARMIN       : (TERTAWA LAGI) Ha Ha Ha …. Kamu opsir Belanda kan ! Ciaaat ! Ciaaat!

PAK BE          :Min, Min. aku bukan opsir Belanda. Genah, aku ki Pak Bei. Aku mungsuhe Londo, padha karo kowe. Sama-sama pejuang.

KARMIN       : Betul kamu di pihak saya ?

PAK BEI        : Halah, nggenah ngono kok. Mosok kowe pangkling karo komandanmu dhewe.

KARMIN       : Jadi kamu sama dengan aku ? Dan kamu komandan saya ? Kalau begitu… Hormat komandan !

PAK BEI MENYAMBUT HORMAT, KEMUDIAN KARMIN MENYANYI LAGU INDONESIA RAYA SAMBIL MENANGIS

PAK BEI        : o. Dhasar wong edan !

KARMIN       : (KEMBALI MENYERANG PAK BEI) CIAAAT ! CIAAAT!

PAK BEI        : (KETAKUTAN) Min, Min. ojo Min. kita kan teman.

KARMIN       : (MENODONGKN SENJATA) Teman apa lawan !

PAK BEI        : Halah genah teman ngono kok. Kita sama-sama pejuang, iya kan ?

KARMIN       : (TERTAWA) Ha Ha Ha …. Aku punya teman.

TERUS PERGI SAMBIL MENYANYIKAN LAGU SORAK-SORAK BERGEMBIRA

PAK BEI        : O . . . Dasar wong edan !

DI KEJAUHAN, KARMIN TAK HENTI BERTERIAK-TERIAK.

KARMIN       : Ciaaaat ! Ciaaaat ! Hep ! Dor dor dor dorrrr . . . .! Tretetet, teretetet, dor, teretetet, dor, teretetet, dorrrr,  . . .! Horee . . . .!! Kita menang. Kita menang !!

SUARA KARMIN SEMAKIN JAUH DAN SEMAKIN MENGHILANG

MAS PON MUNCUL

MAS PON      : Wah metune plompong ki pak Bei !!!

PAK BEI        : (KECEWA) Waduh, blong meneh ? Kok iso plompong ki piye to ! Mongko kuwi dhuwit kanggo gawe kandang pitik sesuk.

TIBA-TIBA KARMIN MUNCUL LAGI. IA BERLARI-LARI SEPERTI KETAKUTAN. BEGITU DEKAT RUMAHNYA PAK BEI. IA MENYELINAP DI BALIK RUMAH.

PAK BEI

(MERESPON) Karim kok keweden, ndelik-ndelik. Halah, kuwi mesti ndhimpil, Mas Pon.

MAS PON

(MERESPON) Wedi, ndhepipil, ah . . . dhimpil . . . Wah cocok Pak Bei, nggenah dhimpil niku. Golek balen Pak Bei, dicoba wae. Yen metu eman-eman lho Pak Bei.

PAK BEI

Wis ludes Mas Pon. Limang rupiah wae wis ora duwe, blas.

MAS PON

Nggawe kandange yen wis nimbus wae to Pak. Wis to mengko gelo lo. Niki genah ndhimpil, mesti niku.

PAK BEI

Lha terus pitikku dikekne ngendi ?

MAS PON

E. . . piye to sampeyan niku. Pitike tak gentine rongewu limangatus. Mengko yen nembus sampeyan tuku meneh.

PAK BEI

Pitikku babon lho, Mas Pon.

MAS PON

Lha yo. Rak podho rego pasar to ? Sopo ngerti nasib mujur entuk balen. Ra yo ngono to Pak Bei.

PAK BEI

(BERPIKIR) Yowis, ngono yo keno. Entenono kene disik.

PAK BEI MASUK KE DALAM RUMAHNYA. TAK BERAPA LAMA DI DALAM RUMAH TERJADI KERIBUTAN ANTARA PAK BEI DAN BU BEI.

BU BEI

Aku ra entuk yen pitike arep kok dol.

PAK BEI

Kene nggone sumpek, ra neng kandhange. Opo arep dikandhang wung-wungan ! Njur wung-wungane sopo !

BU BEI

Pokoke ojo di dil. Tak openane.

PAK BEI

Go rene to, Kem !

BU BEI

Ojo !

TERDENGAR PERALATAN DAPUR TERLEMPAR

PAK BEI

Kem ! Di gowo rene rak !

BU BEI

Ojo !

PAK BEI

Kuwi pitike sopo ! Kuwi pitik ku yo !

BU BEI

Pitik mu opo ! Iki soko nggone Warni to ! Biyen wis tak bayar telungewu, terus tak titipke ning kono disik.

SUARA PERALATAN DAPUR TERLEMPAR LAGI.

PAK BEI

Wis, pokoke go rene rak !

BU BEI

Ora ! Pol-pole mung arep kok nggo pasang cap ji kia ! Tambang kurang ajar ! Tukang glembuk ! Mas Pon endhi, tak nyohane !

PAK BEI

Ojo Kem ! Ojo . . . ! Iki urusanku dhewe !

MENDENGAR ITU, MAS PON LARI TERBIRIT-BIRIT.

BU BEI

Aku ra peduli ! Wonge neng endhi ! Njaluk di gawe wiring po piye ! (SAMBIL MENGEMPIT AYAM BABON, DI DEPAN RUMAHNYA) Oalah Pak, Pak, Utangmu neng endhi-endhi. Bonmu pirang-pirang, ora wurung aku sing kedhungsangan. Mas Pon ndelik ning endhi man ? Reneo tak kumbahe cangkemu !

9. SEORANG KREDIT BARANG (MINDRING) MUNCUL. IA MENUJU DEPAN RUMAH YU SRI YANG TAK JAUH DARI RUMAH PAK BEI.

MINDRING

Mindring . . .! Mindring . . .!

MENGETAHUI ITU, PAK BEI SUDAH GUGUP MENUTUP PINTU RUMAHNYA.  YU SRI DAN ORANG-ORANG KELUAR DARI DALAM RUMAHNYA

MINDRING

Na . . . iki lho Yu Sri pesenanmu. Wa . . .tak golekke sing paling apik. Wis to percoyoo. Ora bakal luntur, tur murah mung telungewu limangatus. Nek ping sepuluh yo seminggu,  mung limangatus. Rak ringan to ?

YU SRI

Nek liyane, opo ?

MINDRING

Ana, daster, nduwuran. Corake apik-apik. Wis to, murah iki.

YU SRI

Urunge bantal ra iso kurang po ?

MINDRING

Yo wis, karo kowe dikurangi rongatus seket, nggo pelarisan.

YU SRI

Lha ngono. Yo wis aku njikuk urunge dhisik.

MINDRING

Dastere ora sisan, Yu ? apik-apik lho. Wis to, tak kei rego murah.

YU SRI

Kapan-kapan wae, aku tak taren bojoku dhisik.

MINDRING

Yu, Pak Bei neng ngomah opo ora yo ?

YU SRI

Lha embuh yo. Aku ra weruh ki.

MINDRING

Titip dhisik yo, Yu. Aku tak ning nggone Pak Bei.

MINDRING MENUJU RUMAH PAK BEI.

MINDRING

(MENGETUK PINTU) Pak Bei, kula nuwun Pak . . . Pak Bei. Mindring Pak, Mindring.

PAK BEI

O. . . Mindring. Wah pangapuntene wae, aku ra pati krungu. Awakku rodho greges-greges, arep masuk angin. Resep obat masuk angin sing ces pleng ki opo yo ?

MINDRING

Kulo mboten ngerti resep. Bola-bali kulo meriki sampeyan ra tau neng ngomah. Bu Bei lungo. Mangke yen ketemu, alasane dhurung oleh dhuwit. Werno-werno alasane. Sing masuk angin, sing ini itu. Terus nganti suk kapan cobo . . .!

PAK BEI

Mbok anu, suk minggu-minggu ngarep mawon. Pokoke kabeh tak lunasi pisan.

MINDRING

Sampeyan niku, yen dikei ati malah ngrogoh rempelo. Yen arep njukuk wae ngrayu-rayu. Aji rembuk manis kok digunakake. Cobo. . . Piro sing sampeyan jupuk ? Kupluk, klambi, sarung, srandal jepit. Kok sing wis lunas mung srandale thok. Opo perlu aku rene nggowo polisi po piye !

PAK BEI

Wah. . . nggih mpun to. Ampun seru-seru, mengke ndak krungu bojo kulo. Kulo rak mpun ngomong, ampun nganti ngertos bojo kulo, nggih to. . .?

MINDRING

Kulo pancen ajeng ngomong kalih Bu Bei, ben ngerti pisan !

PAK BEI

Waduh. . . Ampun. Ampun. . .

TIBA-TIBA BU BEI MUNCUL

BU BEI

O. . . Dhadhi ngono kuwi pokal gawemu, Pak ! Ngapusi rono, ngapusi rene. . . Omonganmu plinthat-plinthut.

PAK BEI

Uwis to, Kem. Kowe kuwi ra sah melu-melu. Wong wedhog ki nggone mburi, kono !

BU BEI

Pak, Sampeyan niku sing ora nduwe isin. Wong lanang senenge ngapusi wong wedhog. Yen ditakoni jare tuku ning pasar. Terus dhuwit leh ku ngekei kuwi terus nengendi playune, Pak ! Nggo pasang cap ji kia, togel, yo po pie !

PAK BEI

Uwis to, Kem. Kowe ra sah rame !

MINDRING

O. . . Dhadhi sampeyan utang kredit kuwi ngapusi Bu Bei to ! Kuwi jenenge wong lanang ora nduwe tanggung jawab. Ndhuwene kok mung konthol ! Wis, niku urusane sampeyan dhewe. Sak niki sing penting urusan utang sampeyan. Pilih dilunasi opo tak undhange polisi !

PAK BEI

Enggih, enggih. . . Kulo lunasi ning seminggu-seminggu engkas. Sak niki nyuwun pangapunten, kulo dhereng gadah. Sa estu.

MINDRING

Janji dhewe lho. Angger nganti ngapusi, awas. Tak undhange polisi !

MINDRING MENINGGALKAN PAK BEI DAN BU BEI. LANTAS MAMPIR MENGAMBIL BARANG DAGANGANNYA DI RUMAH YU SRI, DAN PERGI. PAK BEI DUDUK. RAUTNYA PUCAT DI TELAN HARI SENJA.

BU BEI

Wong lanang opo kuwi ! Ra tau nggagas omah. Ra tau nggagas anak. Cobo. . . anak wis yah mene dhurung mulih barang, yo mung meneng wae. Wong lanang kok mung akon-akon. Wong lanang opo kuwi !

LALU BU BEI PERGI MENCARI ARI MAHMUD ANAKNYA.

PAK BEI DUDUK SENDIRI. MURUNG. SELANG KEMUDIAN, IA MASUK KE DALAM RUMAHNYA HANYA SEBENTAR.

DAN SUDAH ITU KE LUAR LAGI MEMBAWA TAMBANG, LALU PERGI.

Solo, 24 Februari 1999
Potret
Marsudi WD.
Semarang, 25 Juli 2001
Di ketik ulang dan pengeditor
Hardjito

Demikianlah struktur atau format resensi pementasan drama. Semoga dapat memberikan manfaat dan menambah wawasan Anda. Silakan baca juga artikel mengenai format resensi cerpen. Akses-Ilmu