Bahasa
Sastra
Makalah
Tutorial Blog
Tutorial SEO
-
-
Premium Template
-
Kebahasaan
Teks Prosedur Kompleks - Sebelum membahas mengenai teks prosedur kompleks, terlebih dahulu akan saya bahas hakikat dari teks itu sendiri. Teks adalah satuan lingual dengan tata organisasi tertentu untuk mengungkapkan makna secara kontekstual. Oleh karena itu, teks adalah bahasa yang berfungsi. Maksud bahasa yang berfungsi adalah bahasa yang sedang melaksanakan tugas tertentu dalam konteks situasi (Halliday dan Hasan, 1994: 13). Contohnya, teks berita adalah bahasa yang berfungsi memberikan suatu informasi mengenai hal atau berita tertentu, teks persuasi adalah bahasa yang berfungsi atau mempunyai tugas membujuk dan mempengaruhi seseorang, dan teks prosedur adalah bahasa yang memiliki tugas memberikan panduan langkah-langlah melakukan sesuatu.
Hakikat Teks Prosedur Kompleks
Teks prosedur kompleks mempunyai kesamaan dengan teks prosedur, yakni teks yang berisi panduan langkah-langkah dalam melakukan sesuatu, hanya saja bersifat lebih kompleks. Kompleks di sini berarti teks tersebut memberikan panduan langkah-langkah yang lebih rinci dan jelas sehingga kemungkinan kecil masyarakat pembaca untuk salah dalam melakukan sesuatu sesuai panduan. Hal inilah yang membedakan teks prosedur yang kompleks dengan teks prosedur biasa. Akibatnya, teks prosedur kompleks dalam menerangkan setiap panduan langkah-langkah dijabarkan dalam bentuk paragraf dan tidak hanya sebatas poin-poin penting saja seperti pada teks prosedur.
Contoh Teks Prosedur:
Cara Menyajikan Luwak White Coffee:
1. Masukkan bubuk Luwak White Coffee ke dalam cangkir
2. Tuangkan air panas dan aduk hingga bercampur
3. Kopi siap disajikan
Jika teks prosedur mengenai cara penyajian kopi luwak dibuat dalam bentuk teks prosedur kompleks, maka bentuk teks akan menjadi seperti berikut.
1. Masukkan bubuk Luwak White Coffee ke dalam cangkir
2. Tuangkan air panas dan aduk hingga bercampur
3. Kopi siap disajikan
Jika teks prosedur mengenai cara penyajian kopi luwak dibuat dalam bentuk teks prosedur kompleks, maka bentuk teks akan menjadi seperti berikut.
Cara Menyajikan Luwak White Coffee yang Tepat
Di Indonesia ini, komunitas pecinta kopi semakin hari semakin bertambah pesat. Tak jarang bermunculan kedai kopi yang menyajikan rasa kopi yang begitu nikmat, mula kopi jenis arabika sampai kopi yang telah mengalami tahap fermentasi. Tentu saja untuk menikmati kopi berkualitas tersebut tidak bisa dengan harga yang murah. Walaupun begitu, kita tidak usah kecewa. Kini kopi dalam kemasan telah banyak beredar dengan rasa yang tidak kalah nikmat, Luwak White Coffee contohnya. Untuk mendapatkan cita rasa seduan yang nikmat, kita harus menyajikan dengan tepat pula. Berikut langkah-langkah dalam menyajikan Luwak White Coffee.
1. Masukkan bubuk kopi luwak ke dalam cangkir
Untuk menyajikan Luwak White Coffee yang nikmat, pertama-tama sobek pada ujung kemasannya. Selanjutnya, masukkan bubuk kopi luwak sekitar 7-8 gram ke dalam cangkir keramik. Kemudian, tambahkan gula secukupnya sesuai dengan selera kita. Jika ingin takaran yang pas, Anda dapat memasukkan gula sebanyak tiga sendok.
2. Tuangkan air panas dan aduk hingga bercampur
Langkah selanjutnya, tuangkan air panas ke dalam cangkir tersebut. Untuk mendapatkan crema atau busa lembut berwarna cokelat keputihan di atas seduhan kopi, panaskan air yang akan digunakan untuk menyeduh tetapi jangan sampai mendidih. Setelah muncul gelembung-gelembung air sebelum mendidih, angkatlah air tersebut dan tuangkan ke dalam cangkir sampai sebatas tinggi kopi bubuk sekitar 2 cm. Aduklah campuran air dan bubuk kopi secara perlahan, lalu diamkan. Selanjutnya, tambahkan lagi air yang mendidih ke dalam cangkir hingga batas lehernya. Aduk secara perlahan lalu tutup dan diamkan selama 3-5 menit.
3. Kopi luwak siap disajikan
Setelah mendiamkan kopi luwak selama 3-5 menit dalam keadaan tertutup, Luwak White Coffee siap disajikan. Sajikan kopi tersebut selagi panas untuk mendapatkan rasa yang nikmat.
Dari kedua contoh tersebut, Anda dapat membedakan dengan sangat mudah dari bentuk fisiknya saja. Teks prosedur hanya berisikan langkah-langkah poin penting, sedangkan teks prosedur kompleks memberikan panduan tidak hanya sekadar langkah-langlah singkat berbentuk poin penting, tetapi penjelasan diberikan dalam bentuk paragraf yang sangat mendetail.
Berdasarkan penjelasan di atas, kiranya kita bisa menarik suatu pemahaman bahwa teks prosedur kompleks adalah teks yang berisikan panduan langkah-langkah melakukan sesuatu yang dijelaskan secara terperinci.
Berdasarkan penjelasan di atas, kiranya kita bisa menarik suatu pemahaman bahwa teks prosedur kompleks adalah teks yang berisikan panduan langkah-langkah melakukan sesuatu yang dijelaskan secara terperinci.
Struktur Teks Prosedur Kompleks
Seperti pada contoh teks eksposisi, teks anekdot, maupun teks laporan observasi, teks prosedur kompleks juga memiliki struktur. Ibarat bangunan, struktur yang menyusun terdiri dari bagian atap, bagian dinding, dan bagian pondasi.
Masih ingatkah struktur yang terdapat dalam teks eksposisi? Struktur yang menyusun teks eksposisi terdiri dari bagian pernyataan pendapat (tesis), bagian argumentasi, dan bagian penegasan ulang pendapat. Jika teks anekdot, struktur penyusunnya terdiri dari abstraksi, orientasi, krisis, reaksi, dan koda. Lalu, seperti apa struktur yang menyusun teks prosedur kompleks seperti pada teks di atas tadi?Struktur teks prosedur kompleks hanya terdiri dari dua bagian, yaitu struktur tujuan dan struktur langkah-langkah. Struktur tujuan adalah bagian yang berisikan hasil akhir yang nantinya akan dicapai (oleh orang yang mempraktikkan prosedur). Struktur tujuan bisa juga didefinisikan sebagai struktur yang berisikan tujuan penulis dalam membuat panduan prosedur. Adapun struktur langkah-langkah sudah tentu struktur yang berisikan langkah-langkah atau cara yang ditempuh agar tujuan itu tercapai.
Jika merujuk pada contoh teks prosedur kompleks mengenai penyajian kopi luwak di atas, struktur tujuannya yaitu pada bagian:
Untuk mendapatkan cita rasa seduan yang nikmat, kita harus menyajikan dengan tepat. Berikut langkah-langkah dalam menyajikan Luwak White Coffee.
sedangkan struktur langkah-langkahnya adalah:
1. Masukkan bubuk Luwak White Coffee ke dalam cangkir
2. Tuangkan air panas dan aduk hingga bercampur
3. Kopi siap disajikan
Untuk membuat teks prosedur kompleks yang baik, kita perlu membuat kalimat awalan atau pendahuluan sebelum mengungkapkan bagian tujuan. Hal tersebut bertujuan untuk menggiring pembahasan ke arah tujuan yang akan kita ulas.
Perhatikan lagi contoh petikan teks prosedur berikut.
Di Indonesia ini, komunitas pecinta kopi semakin hari semakin bertambah pesat. Tak jarang bermunculan kedai kopi yang menyajikan rasa kopi yang begitu nikmat, mula kopi jenis arabika sampai kopi yang telah mengalami tahap fermentasi. Tentu saja untuk menikmati kopi berkualitas tersebut tidak bisa dengan harga yang murah. Walaupun begitu, kita tidak usah kecewa. Kini kopi dalam kemasan telah banyak beredar dengan rasa yang tidak kalah nikmat, Luwak White Coffee contohnya. Untuk mendapatkan cita rasa seduan yang nikmat, kita harus menyajikan dengan tepat pula. Berikut langkah-langkah dalam menyajikan Luwak White Coffee.
Bagian yang diberi tandah merah adalah bagian awalan untuk menggiring pembicaraan ke arah pemberian tips penyajian kopi luwak. Bayangkan jika Anda tiba-tiba langsung mengungkapkan tujuan tanpa ada kalimat awalan yang membuka ke arah tujuan. Seperti tidak ada angin dan tidak ada hujan tiba-tiba menawarkan suatu tips.
Unsur Kebahasaan Teks Prosedur Kompleks
Unsur kebahasaan bisa juga disebut sebagai ciri kebahasaan yang terdapat di dalam teks prosedur kompleks. Dengan mencermati ciri-ciri kebahasaan tersebut di samping strukturnya, kita bisa mengenali teks tergolong prosedur kompleks atau bukan. Unsur kebahasaan dalam teks prosedur kompleks terdiri dari:
- Penggunaan (a) partisipan manusia, (b) verba material dan verba tingkah laku, dan (c) konjungsi temporal.
- Penggunaan bentuk syarat dan pilihan, serta
- Penggunaan kalimat
interogatifimperatif
Partisipan Manusia
Partisipan manusia ialah seseorang yang berpartisipasi dalam suatu kalimat.
Contoh:
Setelah masuk ke dalam ruang ATM, Anda terlebih dahulu membaca panduan sebelum melakukan transaksi.
Anda adalah contoh partisipan manusia. Anda adalah seseorang yang dikenai suatu pekerjaan. Dengan kata lain, partisipan manusia adalah subjek (subjek bentuk manusia) dalam sebuah kalimat.
Perhatikan contoh berikut:
Di Indonesia ini, komunitas pecinta kopi semakin hari semakin bertambah pesat. Tak jarang bermunculan kedai kopi yang menyajikan rasa kopi yang begitu nikmat, mula kopi jenis arabika sampai kopi yang telah mengalami tahap fermentasi. Tentu saja untuk menikmati kopi berkualitas tersebut tidak bisa dengan harga yang murah. Walaupun begitu, kita tidak usah kecewa. Kini kopi dalam kemasan telah banyak beredar dengan rasa yang tidak kalah nikmat, Luwak White Coffee contohnya. Untuk mendapatkan cita rasa seduan yang nikmat, kita harus menyajikan dengan tepat pula. Berikut langkah-langkah dalam menyajikan Luwak White Coffee.
Kata atau frasa komunitas pecinta kopi adalah contoh partisipan manusia. Dari paragraf di atas, ditemui juga bentuk partisipan lainnya, yakni kata kita.
Perhatikan contoh berikut:
Di Indonesia ini, komunitas pecinta kopi semakin hari semakin bertambah pesat. Tak jarang bermunculan kedai kopi yang menyajikan rasa kopi yang begitu nikmat, mula kopi jenis arabika sampai kopi yang telah mengalami tahap fermentasi. Tentu saja untuk menikmati kopi berkualitas tersebut tidak bisa dengan harga yang murah. Walaupun begitu, kita tidak usah kecewa. Kini kopi dalam kemasan telah banyak beredar dengan rasa yang tidak kalah nikmat, Luwak White Coffee contohnya. Untuk mendapatkan cita rasa seduan yang nikmat, kita harus menyajikan dengan tepat pula. Berikut langkah-langkah dalam menyajikan Luwak White Coffee.
Kata atau frasa komunitas pecinta kopi adalah contoh partisipan manusia. Dari paragraf di atas, ditemui juga bentuk partisipan lainnya, yakni kata kita.
Verba Material dan Verba Tingkah Laku
Verba material adalah bentuk kata kerja berupa perbuatan yang dilakukan dengan fisik, misalnya membaca, berlari, menulis. Berkaitan dengan contoh teks prosedur tentang penyajian kopi luwak, verba materialnya adalah menyobek, memasukkan, tuangkan, panaskan, aduk, menyajikan, dll. Adapun verba tingkah laku adalah bentuk kata kerja yang merujuk baik fisik maupun psikologis. Verba perilaku yang dilakukan dengan fisik, disebut verba perilaku verbal. Perbedaan verba perilaku verbal dengan verba material yaitu verba material dilakukan dengan fisik kecuali lisan, sedangkan verba perilaku verbal dilakukan dengan lisan. Contoh verba perilaku verbal adalah berteriak, mencaci maki, bergumam, bersiul, memarahi, menertawakan, dll.
Contoh:
Ketika Anda menjadi pendengar yang baik, jangan pernah menertawakan setiap kesalahan yang dilakukan oleh si Pembicara.
Dengan kata lain, verba perilaku verbal adalah kata kerja perpaduan antara ucapan dan tindakan. Adapun verba perilaku mental adalah kata kerja perpaduan anatara ungkapan perasaan dan tindakan. Contoh verba perilaku mental antara lain menyukai, mengagumi, mencintai.
Contoh:
Andi kagum dengan kepandaian temannya dalam membacakan puisi.
Konjungsi Temporal
Konjungsi atau kata penghubung adalah kata tugas yang menghubungkan antar klausa, antar kalimat, dan antar paragraf. Adapun konjungsi temporal (waktu) adalah kata hubung yang menjelaskan hubungan waktu antara dua hal atau peristiwa. Dengan kata lain, konjungsi temporal menghubungkan waktu satu dengan waktu yang lain. Contoh konjungsi temporal misalnya: apabila, bila, bilamana, demi, hingga, ketika, sambil, sebelum, sampai, sedari, sejak, selama, semenjak, sementara, seraya, waktu, setelah, sesudah, dan tatkala.
Perhatikan kalimat berikut:
- Konjungsi antarklausa adalah konjungsi yang menghubungkan dua klausa atau lebih.
Dari kedua contoh di atas, terlihat bahwa konjungsi terdapat dalam satu kalimat. Itulah yang menjadi ciri konjungsi antarklausa. Konjungsi antarklausa inilah yang disebut sebagai konjungsi internal.
- Konjungsi antarkalimat adalah konjungsi yang menghubungkan satu kalimat dengan kalimat yang lain. Oleh karena itu, konjungsi ini selalu memulai satu kalimat yang baru dan huruf pertamanya ditulis dengan huruf kapital.
Perhatikan contoh kalimat berikut:
Dari contoh kalimat di atas, terlihat bahwa konjungsi digunakan untuk menghubungkan dua kalimat. Itulah yang menjadi ciri konjungsi antarkalimat. Jenis konjungsi ini disebut juga sebagai konjungsi eksternal.
- Konjungsi antarparagraf adalah konjungsi yang digunakan untuk menghubungkan paragraf tempat konjungsi itu dipakai dengan paragraf sebelumnya. Konjungsi antarparagraf pada umumnya terletak pada awal paragraf.
Contoh:
Untuk menyajikan Luwak White Coffee yang nikmat, pertama-tama sobek pada ujung kemasannya. Selanjutnya, masukkan bubuk kopi luwak sekitar 7-8 gram ke dalam cangkir keramik. Kemudian, tambahkan gula secukupnya sesuai dengan selera kita dan tuangkan air panas ke dalam cangkir tersebut
Adapun untuk mendapatkan crema atau busa lembut berwarna cokelat keputihan di atas seduhan kopi, panaskan air yang akan digunakan untuk menyeduh tetapi jangan sampai mendidih. Setelah muncul gelembung-gelembung air sebelum mendidih, angkatlah air tersebut dan tuangkan ke dalam cangkir sampai sebatas tinggi kopi bubuk sekitar 2 cm. Aduklah campuran air dan bubuk kopi secara perlahan, lalu diamkan. Selanjutnya, tambahkan lagi air yang mendidih ke dalam cangkir hingga batas lehernya. Aduk secara perlahan lalu tutup dan diamkan selama 3-5 menit.
Kata adapun adalah kata hubung yang berfungsi menghubungkan paragraf pertama dengan paragraf kedua sehingga terlihat keterkaitan bahasan antarkedua paragraf tersebut. Itulah contoh konjungsi antarparagraf.
Syarat dan Pilihan
Syarat dan pilihan pada teks prosedur kompleks diungkapkan dengan konjungsi yang sama, yaitu jika, apabila, atau seandainya. Syarat ditengarai dengan adanya konsekuensi yang harus kita terima jika menerima suatu keputusan. Adapun pilihan ditengarai dengan adanya dua hal atau lebih yang dapat kita pilih.
Contoh:
1. Jika Anda ingin mendapatkan rasa manis yang pas, cukup tuangkan gula sebanyak tiga sendok.
2. Gunakanlah gelas atau cangkir keramik untuk menyajikan kopi.
1. Jika Anda ingin mendapatkan rasa manis yang pas, cukup tuangkan gula sebanyak tiga sendok.
2. Gunakanlah gelas atau cangkir keramik untuk menyajikan kopi.
Kalimat pertama adalah jenis kalimat syarat. Jika kita menginginkan rasa yang manis, konsekuensinya harus menuangkan gula sebanyak tiga sendok. Adapun kalimat kedua adalah contoh pilihan. Kita mempunyai dua alternatif pilihan tempat untuk menyajikan kopi.
Kalimat Imperatif
Kalimat yang mengandung perintah disebut kalimat imperatif. Oleh karena itu, kalimat imperatif adalah kalimat yang berfungsi untuk meminta atau melarang seseorang untuk melakukan sesuatu. Berikut ini contoh kalimat imperatif yang terdapat dalam teks prosedur kompleks di atas.
1. Masukkan kopi bubuk ke dalam cangkir
2. Tuangkan air panas dan aduk hingga bercampur
3. Sajikan kopi selagi panas
Untuk menyusun teks prosedur kompleks yang baik, kiranya unsur kebahasaan di atas sangat perlu untuk diperhatikan. Gunakanlah bentuk-bentuk kalimat imperatif dalam membuat langkah-langkah. Perhatikan pula penggunaan konjungsi temporal untuk menghubungkan tiap langkah-langkah prosedur. Untuk menambah kompleksitas, munculkan juga bentuk kalimat syarat dan pilihan.
1. Masukkan kopi bubuk ke dalam cangkir
2. Tuangkan air panas dan aduk hingga bercampur
3. Sajikan kopi selagi panas
Untuk menyusun teks prosedur kompleks yang baik, kiranya unsur kebahasaan di atas sangat perlu untuk diperhatikan. Gunakanlah bentuk-bentuk kalimat imperatif dalam membuat langkah-langkah. Perhatikan pula penggunaan konjungsi temporal untuk menghubungkan tiap langkah-langkah prosedur. Untuk menambah kompleksitas, munculkan juga bentuk kalimat syarat dan pilihan.
Tips Teks Prosedur Kompleks yang Berkualitas
Untuk membuat teks prosedur kompleks yang berkualitas, Anda paling tidak harus memperhatikan dua hal berikut. Pertama, sebelum membuat teks prosedur kompleks, lakukanlah eksplorasi topik-topik yang kiranya menarik untuk dibahas. Hal ini akan menentukan seberapa besar teks prosedur Anda diminati para pembaca. Pilihlah topik yang membuat pembaca penasaran (untuk membaca) atau topik yang unik (jarang diulas).
Contoh:
Contoh:
Cara merawat kulit cepat putih secara alami
Topik tersebut menawarkan informasi cara merawat kulit agar cepat putih. Sudah pasti banyak sekali masyarakat ingin memiliki kulit yang putih. Nilai plus dari topik ini, Anda membagikan panduan merawat kulit tetapi secara alami. Kebanyakan pemutih kulit secara cepat mengandung bahan-bahan kimia atau zat yang mempunyai efek di belakangnya. Tetapi beda dengan panduan yang Anda berikan, Anda membagikan suatu informasi cara merawat kulit cepat putih namun tetap menggunakan perawatan yang alami. Bayangkan jika Anda memilih mengangkat topik mengenai cara penyajian mi instan. Mungkin yang ada, teks prosedur kompleks Anda hanya akan dilihat sepintas lalu.
Dalam memilih topik, hal yang tidak kalah penting untuk diperhatikan adalah seberapa banyak informasi yang Anda miliki mengenai topik tersebut. Andai kata Anda memilih topik mengenai cara merawat kulit secara alami sedangkan informasi yang Anda miliki mengenai cara merawat kulis sangat minim, jangan paksakan untuk mengangkat topik tersebut.
Kedua, hal yang harus Anda perhatikan adalah kualitas konten atau isi dari teks prosedur kompleks tersebut. Dalam hal ini, Anda dituntut untuk memberikan penjelasan yang menarik dan unik untuk disimak. Menarik dan unik di sini maksudnya teks prosedur kompleks dijelaskan dengan langkah-langkah yang tidak biasanya dan jarang sekali masyarakat yang tahu. Pembaca suka dengan informasi yang baru dan bosan dengan pembahasan yang sudah menjadi rahasia umum. Pembaca akan merasa sangat beruntung bisa membaca panduan yang Anda berikan tersebut. Dia mendapatkan informasi baru yang jarang sekali diketahui orang pada umumnya. Atau kalau tidak, untuk membuat pembahasan yang menarik pembaca, Anda harus mampu memberikan panduan langkah-langkah secara rinci dan mudah dipahami.
Perhatikan langkah kedua pada contoh teks prosedur kompleks di atas:
2. Tuangkan air panas dan aduk hingga bercampur
Langkah selanjutnya, tuangkan air panas ke dalam cangkir tersebut. Untuk mendapatkan crema atau busa lembut berwarna cokelat keputihan di atas seduhan kopi, panaskan air yang akan digunakan untuk menyeduh tetapi jangan sampai mendidih. Setelah muncul gelembung-gelembung air sebelum mendidih, angkatlah air tersebut dan tuangkan ke dalam cangkir sampai sebatas tinggi kopi bubuk sekitar 2 cm. Aduklah campuran air dan bubuk kopi secara perlahan, lalu diamkan. Selanjutnya, tambahkan lagi air yang mendidih ke dalam cangkir hingga batas lehernya. Aduk secara perlahan lalu tutup dan diamkan selama 3-5 menit.
Langkah kedua tersebut merupakan contoh pembahasan yang menarik dan unik. Mungkin kebanyakan orang tidak tahu cara menghasilkan kopi yang terlihat cantik. Hal itulah yang membuat pembaca memberikan penilaian lebih terhadap teks prosedur kompleks Anda.
Demikianlah pembahasan mengenai materi Teks Prosedur Kompleks, semoga memberikan manfaat kepada Anda. Akses Ilmu
Contoh Latar Belakang Masalah - Latar belakang masalah adalah salah satu bagian terpenting dalam suatu makalah penelitian. Bahkan dalam sistem penilaian hasil karya ilmiah, bagian tersebut memperoleh porsi 30% dari keseluruhan makalah.
Masalahnya, kerap kali dijumpai penulisan latar belakang masalah yang tidak sistematis dan tidak lengkap. Di dalam latar belakang masalah, dituangkan Urgensi atau pentingnya masalah diteliti, Problem atau permasalahan yang terjadi. Dalam format penyusunannya, diawali suatu pembicaraan yang berfungsi untuk menggiring pembicaraan menuju materi yang akan diteliti, diteruskan uraian singkat materi secara umum, dilanjutkan pengungkapan masalah yang terjadi disertai bukti atau data-data serta fakta pendukung. Akhir paragraf merupakan bagian alasan pentingnya kita meneliti materi tersebut.
Contoh Latar Belakang Masalah:
Bahasa memiliki peranan penting dalam kehidupan, yakni sebagai alat komunikasi. Berbicara mengenai bahasa, terdapat empat keterampilan dalam berbahasa, antara lain keterampilan mendengarkan atau menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan terakhir adalah keterampilan menulis. Di antara keempat keterampilan tersebut, keterampilan menulis merupakan keterampilan tersulit jika dibandingkan dengan jenis keterampilan lainnya. Hal tersebut disebabkan tingkat kemahiran menulis di dalamnya menuntut kemahiran keterampilan yang lain.
Salah satu jenis keterampilan menulis adalah kemampuan menulis teks laporan observasi. Teks laporan observasi adalah jenis teks yang dihasilkan dari kegiatan pengamatan terhadap sesuatu hal yang menjadi objek observasi yang dirancang dalam bentuk laporan. Teks laporan hasil observasi banyak digunakan dalam buku-buku teks, ensiklopedi, majalah sains, teks-teks sejarah, buku-buku bacaan mengenai fakta-fakta, buku-buku referensi atau sumber.
Kemampuan tersebut sangat penting dikuasai khususnya bagi para peserta didik tingkat SMA. Selain menjadi bahasan materi yang diwajibkan dalam kurikulum, adanya pemahaman mengenai keterampilan menulis teks laporan observasi menjadikan siswa mampu mencermati dan mengobservasi hal-hal di sekeliling lingkungan sehingga menumbuhkan perasaan peka terhadap lingkungan alam. Selanjutnya, informasi atas hasil pengamatan dipublikasikan dalam bentuk laporan sehingga bermanfaat bagi masyarakat umum.
Sayangnya, kemampuan menulis laporan observasi siswa SMA dirasa masih kurang bagus. Hal itu ditandai dengan banyaknya kebingungan mengenai bagaimana dan apa yang dilaporkan dalam kegiatan observasi, adanya pemahaman yang berbeda mengenai struktur dan kaidah laporan observasi, kurangnya kecakapan dalam mengabstraksi dan mengonversi teks laporan observasi.
Berdasarkan uraian di atas, kiranya materi mengenai keterampilan menulis teks laporan observasi perlu untuk dikaji dan dibahas lebih lanjut. Dengan adanya pembahasan ini, diharapkan bermanfaat dan mampu memberikan pemahaman dan penjelasan kepada para siswa seputar teks laporan observasi. Oleh karena itu, penulis dalam makalah ini mengangkat judul Kajian Teks Laporan Observasi.
Demikianlah contoh latar belakang masalah. Walaupun singkat dan tidak terlalu menampilkan latar belakang yang lengkap, kami harap dapat memberikan inti pemahaman dalam membuat latar belakang masalah yang baik dan benar. Akses-Ilmu
Definisi dan Jenis Kutipan - Kutipan adalah
suatu kata yang mungkin semua orang belum tahu apa maksudnya. Kutipan
juga merupakan suatu gagasan, ide, pendapat yang diambil dari berbagai
sumber. Proses pengambilan gagasan itu disebut mengutip. Gagasan itu
bisa diambil dari kamus, ensiklopedi, artikel, laporan, buku, majalah,
internet, dan lain sebagainya.Kutipan dapat disimpulkan juga sebagai salinan kalimat,paragraf, atau pendapat dari seorang pengarang atau ucapan orang terkenal karena keahliannya, baik yang terdapat dalam buku, jurnal, baik yang melalui media cetak maupun elektronik. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, mengutip adalah mengambil perkataan atau kalimat dari buku atau yang lainnya.mengutip itu berbeda dengan plagiat. Plagiat adalah mengambul karangan karangan atau pendapat orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan atau pendapat sendiri. Yang perlu dihindari ialah kutipan yang tuidak mengandung makna apa-apa dalam tulisan anda. Namun, namanya mengutip, jangan sekali-kali melakukan kesalahan ketika mengutip. Kalau ternyata terdapat kesalahan dalam teks yang dikutip, penulis dapat memberikan catatan khusus langsung pada teks dengan tanda kurung, lalu diberi tanda ’sic’, yakni singkatan dari sicut (latin) yang berarti: memang demikianlah asalnya (tercetak). Atau, sesuai petunjuk dari Depdiknas-PusatBahasa sepertu termuat dalam Buku Pedoman Umum EYD, berikan tanda siku [ ] mengapit kutipan yang ternyata salah itu.
Prinsip-Prinsip Mengutip
Dalam membuat tulisan kita pasti sering mengambil atau mengutip dari tulisan orang lain, maka dari itu perlu kita tahu bagaimana prinsip-prinsip yang benar dalam mengutip dari tulisan orang lain. Diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Apabila dalam mengutip sebuah karya atau tulisan yang ada salah ejaan dari sumber kutipan kita, maka sebaiknya kita biarkan saja apa adanya seperti sumber yang kita ambil tersebut. Kita sebagai pengutip tidak diperbolehkan membenarkan kata ataupun kalimat yang salah dari sumber kutipan kita.
b. Dalam kutipan kita diperkenankan menghilangkan bagian-bagian kutipan dengan syarat bahwa penghilangan bagian itu tidak menyebabkan perubahan makna atau arti yang terkandung dalam sumber kutipan kita. Caranya :
- Menghilangkan bagian kutipan yang kurang dari satu alinea.
- Bagian yang dihilangkan diganti dengan tiga titik berspasi.
- Menghilangkan bagian kutipan yang kurang dari satu alinea.
- Bagian yang dihilangkan diganti dengan tiga titik berspasi sepanjang garis (dari margin kiri sampai margin kanan).
c. Penulis mempertimbangkan bahwa kutipan itu perlu.
d. Penulis bertanggung jawab penuh terhadap ketepatan dan ketelitian kutipan
e. Kutipan dapat terkait dengan penemuan teori
f. Jangan terlalu banyak mempergunakan kutipan langsung (tidak lebih dari seperempat halaman)
g. Penulis mempertimbangkan jenis kutipan, kutipan langsung atau kutipan tak langsung
h. Perhatikan teknik penulisan kutipan dan kaitannya dengan sumber rujukan
d. Penulis bertanggung jawab penuh terhadap ketepatan dan ketelitian kutipan
e. Kutipan dapat terkait dengan penemuan teori
f. Jangan terlalu banyak mempergunakan kutipan langsung (tidak lebih dari seperempat halaman)
g. Penulis mempertimbangkan jenis kutipan, kutipan langsung atau kutipan tak langsung
h. Perhatikan teknik penulisan kutipan dan kaitannya dengan sumber rujukan
Macam-Macam Kutipan
Terdapat beberapa jenis kutipan, antara lain adalah Kutipan langsung dan Kutipan Tidak langsung. Disini saya akan mencoba menjelaskan jenis-jenis kutipan tersebut.
1. Kutipan Langsung adalah kutipan yang sama persis seperti kutipan aslinya, atau sumber yang kita ambil untuk mengutip.
Disini kita sama sekali tidak boleh merubah atau menghilangkan kata atau kalimat dari sumber kutipan kita.Kalaupun ada keraguan atau kesalahan dalam kutipan yang kita ambit tersebut kita hanya dapat memandakannya dengan [sic!] yang menandakan kita mengutip langsung tanpa ada editan dan kita tidak bertanggung jawab jika ada kesalahan dari kutipan ynag kita ambil. Bila dalam kutipan terdapat huruf atau kata yang salah lalu dibetulkan oleh pengutip,harus digunakan huruf siku [ ….. ]. Demikian juga kalau kita menyesuaikan ejaan,memberi huruf kapital,garis bawah,atau huruf miring,kita perlu menjelaskan hal tersebut, missal [huruf miring dari pengutip], [ejaan disesuaikan dengan EYD],dll.
Ada dua cara penerapan kutipan langsung dalam karya ilmiah.
a. Kutipan langsung yang tidak lebih dari empat baris
1. Kutipan Langsung adalah kutipan yang sama persis seperti kutipan aslinya, atau sumber yang kita ambil untuk mengutip.
Disini kita sama sekali tidak boleh merubah atau menghilangkan kata atau kalimat dari sumber kutipan kita.Kalaupun ada keraguan atau kesalahan dalam kutipan yang kita ambit tersebut kita hanya dapat memandakannya dengan [sic!] yang menandakan kita mengutip langsung tanpa ada editan dan kita tidak bertanggung jawab jika ada kesalahan dari kutipan ynag kita ambil. Bila dalam kutipan terdapat huruf atau kata yang salah lalu dibetulkan oleh pengutip,harus digunakan huruf siku [ ….. ]. Demikian juga kalau kita menyesuaikan ejaan,memberi huruf kapital,garis bawah,atau huruf miring,kita perlu menjelaskan hal tersebut, missal [huruf miring dari pengutip], [ejaan disesuaikan dengan EYD],dll.
Ada dua cara penerapan kutipan langsung dalam karya ilmiah.
a. Kutipan langsung yang tidak lebih dari empat baris
- Kutipan ditulis menyatu dengan teks
- Jarak antara baris dengan baris dua spasi.
- Kutipan diapit dengan tanda petik
- Kutipan diikuti nama akhir pengarang, tahun terbit, dan nomor halaman.
Contoh:
Dalam kenyatannya, tidak ada definisi manajemen yang telah diterima secara universal. ”Menurut Follet (1982:8) manajemen diartikan sebagai seni dalam menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain.”
Contoh:
Mangkunegara (2007:86) menyatakan bahwa “benefit adalah nilai keuangan (moneter) langsung untuk pegawai yang secara cepat dapat ditentukan”.
Model di atas ditulis dengan mencantumkan nama belakang penulis dengan huruf kapital di awal, diikuti tahun dan halaman yang diberi tanda kurung dengan pemisah tanda titik dua (:) tanpa spasi. Selain model di atas, dapat juga menggunakan model berikut.
“Benefit adalah nilai keuangan (moneter) langsung untuk pegawai yang secara cepat dapat ditentukan” (Mangkunegara, 2007:86).
Model di atas mencantumkan nama belakang penulis, tahun, dan halaman di dalam tanda kurung. Nama belakang penulis ditulis huruf kapital diakhiri tanda koma (,) diikuti spasi, lalu ditulis tahun, diikuti tanda titik dua (:) tanpa spasi dengan halaman buku.
Catatan:
Tanda kutipan tunggal (‘…’) digunakan di dalam tanda kutip (“…“), misalkan Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah “Ada hubungan yang erat antara rasa ‘PD’ seseorang dengan totalitas pembacaan puisi.”
NOTE: Kutipan Panjang dengan Sebagian Kalimat Dihilangkan
Kutipan ini ditulis dengan menggunakan tanda elipsis (…). Tanda ini digunakan untuk menghilangkan bagian kalimat yang kurang diperlukan.
Contoh:
“Program benefit bertujuan untuk memperkecil turnover, meningkatkan modal kerja, dan meningkatkan keamanan. …. Sedangkan program pelayanan adalah laporan tahunan untuk pegawai, adanya tim olah raga, kamar tamu pegawai, kafetaria pegawai, surat kabar perusahaan, toko perusahaan, discount (potongan harga) produk perusahaan, bantuan hukum, fasilitas ruing baca dan perpustakaan, pemberian makan siang, adanya fasilitas medis, dokter perusahaan, tempat parkir, ada program rekreasi atau darmawisata” (Mangkunegara, 2009:86).
Perhatikan penggunanaan tanda elipsis di atas! Untuk menghilangkan sebagian kalimat, tanda elipsis ditulis dengan menggunakan tanda titik (.) sebanyak tiga. Untuk titik ke empat, merupakan penanda akhir kalimat.
b. Kutipan langsung yang lebih dari empat baris
Dalam kenyatannya, tidak ada definisi manajemen yang telah diterima secara universal. ”Menurut Follet (1982:8) manajemen diartikan sebagai seni dalam menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain.”
Contoh:
Mangkunegara (2007:86) menyatakan bahwa “benefit adalah nilai keuangan (moneter) langsung untuk pegawai yang secara cepat dapat ditentukan”.
Model di atas ditulis dengan mencantumkan nama belakang penulis dengan huruf kapital di awal, diikuti tahun dan halaman yang diberi tanda kurung dengan pemisah tanda titik dua (:) tanpa spasi. Selain model di atas, dapat juga menggunakan model berikut.
“Benefit adalah nilai keuangan (moneter) langsung untuk pegawai yang secara cepat dapat ditentukan” (Mangkunegara, 2007:86).
Model di atas mencantumkan nama belakang penulis, tahun, dan halaman di dalam tanda kurung. Nama belakang penulis ditulis huruf kapital diakhiri tanda koma (,) diikuti spasi, lalu ditulis tahun, diikuti tanda titik dua (:) tanpa spasi dengan halaman buku.
Catatan:
Tanda kutipan tunggal (‘…’) digunakan di dalam tanda kutip (“…“), misalkan Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah “Ada hubungan yang erat antara rasa ‘PD’ seseorang dengan totalitas pembacaan puisi.”
NOTE: Kutipan Panjang dengan Sebagian Kalimat Dihilangkan
Kutipan ini ditulis dengan menggunakan tanda elipsis (…). Tanda ini digunakan untuk menghilangkan bagian kalimat yang kurang diperlukan.
Contoh:
“Program benefit bertujuan untuk memperkecil turnover, meningkatkan modal kerja, dan meningkatkan keamanan. …. Sedangkan program pelayanan adalah laporan tahunan untuk pegawai, adanya tim olah raga, kamar tamu pegawai, kafetaria pegawai, surat kabar perusahaan, toko perusahaan, discount (potongan harga) produk perusahaan, bantuan hukum, fasilitas ruing baca dan perpustakaan, pemberian makan siang, adanya fasilitas medis, dokter perusahaan, tempat parkir, ada program rekreasi atau darmawisata” (Mangkunegara, 2009:86).
Perhatikan penggunanaan tanda elipsis di atas! Untuk menghilangkan sebagian kalimat, tanda elipsis ditulis dengan menggunakan tanda titik (.) sebanyak tiga. Untuk titik ke empat, merupakan penanda akhir kalimat.
b. Kutipan langsung yang lebih dari empat baris
- Kutipan dipisahkan dari teks dengan jarak 2,5 spasi
- Jarak antara baris dengan baris kutipan satu spasi
- Kutipan boleh diapit tanda petik, boleh juga tidak
- Seluruh kutipan dimasukkan ke dalam 5-7 ketikan.
Contoh :
2. Kutipan Tidak Langsung adalah kutipan yang telah kita ringkas intisarinya dari sumber kutipan aslinya.
Kutipan tidak langsung ditulis menyatu dengan teks yang kita buat dan tidak usah diapit tanda petik.Penyebutan sumber dapat dengan sistem catatan kaki, dapat juga dengan sistem catatan langsung (catatan perut ).
a. Ditulis menyatu dengan teks
b. Tidak menggunakan tanda petik
c. Mencantumkan nama akhir pengarang, tahun, dan nomor halaman.
Contoh:
Isu Millenium Bug atau yang lebih dikenal dengan istilah Y2K berpengaruh besar terhadap peningkatan penjualan komputer. Di Indonesia, sejak kwartal pertama tahun 2006, penjualan komputer mengalamai peningkatan hingga 50-200 %. Menurut Prasetyo (2008), penjualan Personal Computer (PC) Wearnes meningkat dibandingkan angka penjualan tahun sebelumnya.
Contoh:
Mangkunegara (2007:86) menyatakan bahwa benefit adalah nilai keuangan untuk pegawai dapat ditentukan dengan cepat.
3. Kutipan pada catatan kaki
4. Kutipan atas ucapan lisan
5. Kutipan dalam kutipan
6. Kutipan langsung pada materi
(akan kami terangkan pada artikel mendatang)
Teknik-Teknik Penulisan Kutipan
Kutipan langsung ini memiliki tiga model, yaitu (a) kutipan ringkas kurang dari 40 kata, (b) kutipan 40 kata atau lebih, dan (c) kutipan yang sebagian dihilangkan. Berikut ini penjelasan ketiga model kutipan tersebut dengan contoh teks di bawah ini.
Pengolahan bahan tulisan pada materi ini diperlukan dalam penulisan yang menggunakan referensi lain. Pendapat, tabel, gambar, dan bagan milik orang lain dapat diolah dengan benar sebagai rujukan untuk meningkatkan kualitas tulisan. Hal ini dapat memperdalam kajian tulisan dengan menggunakan referensi dari sumber lain, baik cetak maupun elektronik.
Praktik pengembangan kepribadian yang jujur, terbuka, dan lebih menghargai karya/pikiran orang lain dapat dilihat pada hasil tulisan. Penulis secara adil merujuk pendapat penulis lain dengan menambahkan sumber dan daftar rujukan/pustaka. Sikap terbuka dan objektif dapat tumbuh melalui subjektivitas berbagai pendapat hingga menumbuhkan pemikiran yang objektif. Sikap saling menghargai antarpenulis pun tumbuh dengan baik.
Pengolahan bahan tulisan yang benar dapat menghindarkan penulis dari tindakan plagiat. Tindakan copy-paste teks bukan perbuatan terlarang dalam menulis asal dilakukan melalui teknik penulisan kutipan langsung. Tindakan copy-paste ide juga bukan perbuatan terlarang dalam menulis asal dilakukan melalui penulisan kutipan tidak langsung.
Teknik menulis kutipan terdiri atas dua model, yaitu kutipan langsung dan tidak langsung. Kutipan langsung berarti merujuk pada pendapat penulis lain melalui teks aslinya (salin-tempel teks). Kutipan tidak langsung berarti merujuk pendapat penulis lain melalui ide/gagasannya (salin-tempel ide). Berikut ini penjelasan keduanya.
Sebagai catatan, umumnya, pedoman penulisan kutipan diatur oleh sebuah lembaga. Aturan ini berlaku khusus untuk lingkungan lembaga tersebut (disebut gaya selingkung). Bisa jadi, aturan penulisan kutipan tersebut sama dan berbeda dengan lembaga lain. Dengan demikian, penggunaan pedoman penulisan kutipan tersebut disesuaikan dengan aturan dari lembaga tempat penulis berada.
Demikianlah artikel mengenai Hakikat Kutipan dan Jenis Kutipan, semoga dapat menambah pemahaman Anda. Akses-Ilmu
Pengolahan bahan tulisan pada materi ini diperlukan dalam penulisan yang menggunakan referensi lain. Pendapat, tabel, gambar, dan bagan milik orang lain dapat diolah dengan benar sebagai rujukan untuk meningkatkan kualitas tulisan. Hal ini dapat memperdalam kajian tulisan dengan menggunakan referensi dari sumber lain, baik cetak maupun elektronik.
Praktik pengembangan kepribadian yang jujur, terbuka, dan lebih menghargai karya/pikiran orang lain dapat dilihat pada hasil tulisan. Penulis secara adil merujuk pendapat penulis lain dengan menambahkan sumber dan daftar rujukan/pustaka. Sikap terbuka dan objektif dapat tumbuh melalui subjektivitas berbagai pendapat hingga menumbuhkan pemikiran yang objektif. Sikap saling menghargai antarpenulis pun tumbuh dengan baik.
Pengolahan bahan tulisan yang benar dapat menghindarkan penulis dari tindakan plagiat. Tindakan copy-paste teks bukan perbuatan terlarang dalam menulis asal dilakukan melalui teknik penulisan kutipan langsung. Tindakan copy-paste ide juga bukan perbuatan terlarang dalam menulis asal dilakukan melalui penulisan kutipan tidak langsung.
Teknik menulis kutipan terdiri atas dua model, yaitu kutipan langsung dan tidak langsung. Kutipan langsung berarti merujuk pada pendapat penulis lain melalui teks aslinya (salin-tempel teks). Kutipan tidak langsung berarti merujuk pendapat penulis lain melalui ide/gagasannya (salin-tempel ide). Berikut ini penjelasan keduanya.
Sebagai catatan, umumnya, pedoman penulisan kutipan diatur oleh sebuah lembaga. Aturan ini berlaku khusus untuk lingkungan lembaga tersebut (disebut gaya selingkung). Bisa jadi, aturan penulisan kutipan tersebut sama dan berbeda dengan lembaga lain. Dengan demikian, penggunaan pedoman penulisan kutipan tersebut disesuaikan dengan aturan dari lembaga tempat penulis berada.
Demikianlah artikel mengenai Hakikat Kutipan dan Jenis Kutipan, semoga dapat menambah pemahaman Anda. Akses-Ilmu
Definisi Psikolinguistik. Psycholinguistics atau the psychology of language merupakan sebuah ilmu pengetahuan yang membahas tentang proses-proses pemerolehan dan penggunaan bahasa ditinjau dari segi psikologi (Nan Bernstein Ratner, dkk. 1998).
Pada umumnya, psycholinguistics mempelajari tiga hal utama (Clark & Clark, 1977; Tanenhaus, 1989):
1.Comprehension: How people understand spoken and written language.
2.Speech Production: How people produce language.
3.Acquisition: How people learn language.
Sementara itu, dalam Wikipedia, Psycholinguistics didefinisikan sebagai sebuah ilmu pengetahuan yang mempelajari faktor-faktor psikologi dan neurobiologi yang memungkinkan manusia untuk memperoleh, menggunakan dan memahami bahasa.
Secara etimologi kata psikologi berasal dari bahasa yunani kuno psyche dan logos, yang berarti “ilmu”. Secara harfiah psikologi berarti “ilmu jiwa”. Psikologi lazim diartikan sebagai suatu bidang ilmu yang mencoba mempelajari perilaku manusia. Caranya, dengan menggkaji hakikat rangsangan, hakikat reaksi terhadap rangsangan itu,dan mengkaji hakikat-hakikat proses akal ysng berlaku sebelum reaksi itu terjadi. Tujuannya pengkajian akal ini yaitu untuk menjelaskan, memprediksikan, dan mengontrol prilaku manusia. Psikologi sangat erat dengan kehidupan manusia dalam segala kaitannya yang sangat luas. Oleh karena itu, muncullah berbagai cabang psikologi yang diberi nama sesuai dengan penerapannya. Di antara cabang-cabang itu adalah psikologi social, psikologi perkembangan (kanak-kanak), psikologi klinik, psikologi komunikasi, dan psikologi bahasa.
Secara umum pengertian linguistik lazim diartikan sebagai ilmu bahasa atau ilmu yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya. Linguistik adalah ilmu yang objek kajiannya adalah bahasa, sedangkan bahasa itu sendiri merupakan fenomena yang hadir dalam segala aktifitas kehidupan manusia.
Secara etimologi sudah disinggung bahwa kata psikolinguistik terbentuk dari kata psikologi dan kata linguistik, yakni dua bidang ilmu yang berbeda, yang masing-masing berdiri sendiri, dengan prosedur dan metode yang berlainan. Namun, keduanya sama-sama meneliti bahasa sebagai objek formalnya. Linguistic mengkaji struktur bahasa, sedangkan psikologi mengkaji perilaku berbahasa .
Menurut Ferdinand de Sausure (1858-1913), pakar linguistik berkebangsaan Swiss, telah berusaha menerangkan apa sebenarnya bahasa itu (linguistik) dan bagaimana keadaaan bahasa itu di dalam otak (psikologi). Ada tiga istilah tentang bahasa yaitu languge (bahasa pada umumnya bersifat abstrak), langue (bahasa etrtentu yang bersifat abstrak), dan parole (bahasa sebagai tuturan yang bersifat kongkret),ia beranggapan dalam bahasa itu pada dasarnya bersifat psikologi. Sebelum menggunakan bahasa, seorang pemakai bahasa terlebih dahulu memperoleh bahasa.
Dalam kaitan ini Levelt (Marat,1983: 1) memberi definisi psikolinguistik sebagai suatu studi mengenai penggunaan dan perolehan bahasa oleh manusia. Kridalaksana (1982: 140) pun berpendapat sama dengan menyatakan bahwa psikolinguistik adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara bahasa dengan perilaku dan akal budi manusia serta kemampuan berbahasa dapat diperoleh.
Dalam proses berbahasa terjadi proses memahami dan menghasilkan ujaran, berupa kalimat-kalimat. Karena itu, Emmon Bach (Tarigan, 1985: 3) mengemukakan bahwa psikolinguistik adalah suatu ilmu yang meneliti bagaimana sebenarnya para pembicara/pemakai bahasa membentuk/ membangun kalimat-kalimat bahasa tersebut.
Sejalan dengan pendapat di atas Slobin (Chaer,2003: 5) mengemukakan bahwa psikolinguistik mencoba menguraikan proses-proses psikologi yang berlangsung jika seseorang mengucapkan kalimat-kalimat yang didengarnya pada waktu berkomunikasi dan bagaimana kemampuan bahasa diperoleh manusia. Secara lebih rinci Chaer (2003: 6) berpendapat bahwa psikolinguistik mencoba menerangkan hakikat struktur bahasa, dan bagaimana struktur itu diperoleh, digunakan pada waktu bertutur, dan pada waktu memahami kalimat-kalimat dalam pertuturan itu.
Demikianlah artikel mengenai hakikat psikolinguistik. Semoga dapat memberikan tambahan ilmu dan memperluas wawasan. Akses-Ilmu
Tata Cara Penulisan Huruf Kapital dan Huruf Miring - Penulisan Huruf Besar/Huruf Kapital dan Huruf Miring dalam Bahasa Indonesia merupakan hal yang sangat penting dan sering terjadi kesalahan. Hal ini akan sangat penting ketika kita menulis karya tulis atau karya ilmiah yang bersifat resmi. Terlepas dari itu, semua penulisan huruf kapital ataupun huruf miring selayaknya memang harus tepat dan benar dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, penulisan huruf menyangkut dua masalah, yaitu (1) Penulisan Huruf Besar dan (2) Penulisan Huruf Miring. Penulisan Huruf yang benar sesuai Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) adalah sebagai berikut.
Dalam Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, penulisan huruf menyangkut dua masalah, yaitu (1) Penulisan Huruf Besar dan (2) Penulisan Huruf Miring. Penulisan Huruf yang benar sesuai Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) adalah sebagai berikut.
HURUF BESAR / HURUF KAPITAL
Huruf besar / huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata awal kalimat.Contoh :
Dia siswa yang pandai
Apakah Ahmad sudah berangkat?
Bagaimana itu bisa terjadi?
Harusnya kamu banyak belajar!
Huruf besar / huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.
Contoh :
Lisa bertanya, “Ibu pergi kemana?”
“Kemarin Pak Joko berkunjung ke rumahku” kata Toni.
"Besok pagi," kata Kepala Sekolah, "Kita harus tiba di sekolah tepat waktu."
Huruf besar / huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan-ungkapan yang berhubungan dengan hal-hal keagamaan, kitab suci, nama Tuhan termasuk kata gantinya.
Contoh :
Allah
Yang Maha Kuasa
Yang Maha Esa
Contoh :
Lisa bertanya, “Ibu pergi kemana?”
“Kemarin Pak Joko berkunjung ke rumahku” kata Toni.
"Besok pagi," kata Kepala Sekolah, "Kita harus tiba di sekolah tepat waktu."
Huruf besar / huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan-ungkapan yang berhubungan dengan hal-hal keagamaan, kitab suci, nama Tuhan termasuk kata gantinya.
Contoh :
Allah
Yang Maha Kuasa
Yang Maha Esa
Alkitab
Weda
Weda
Qur’an
Hindu
Hindu
Islam
Tuhan selalu mengasihi semua umat-Nya
Huruf besar / huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.
Contoh :
Haji Abu Bakar
Imam Maliki
Tuhan selalu mengasihi semua umat-Nya
Huruf besar / huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.
Contoh :
Haji Abu Bakar
Imam Maliki
Imam Hambali
Nabi Ibrahim
Nabi Ibrahim
Sultan Ageng Tirtayasa
Huruf besar / huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang.
Contoh :
Presiden Soeharto
Gubernur Wahono
Perdana Menteri Nehru
Profesor Supomo
Huruf besar / huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang.
Contoh :
Presiden Soeharto
Gubernur Wahono
Perdana Menteri Nehru
Profesor Supomo
Huruf besar / huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama orang.
Contoh :
Siti Mariam
Agus Subekti
Abdul Kahar
Wage Rudolf Supratman
Suparto Sosrodiharjo
Huruf besar / huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku dan bahasa.
Contoh :
bangsa Indonesia
suku Jawa
bahasa Belanda
Contoh :
Siti Mariam
Agus Subekti
Abdul Kahar
Wage Rudolf Supratman
Suparto Sosrodiharjo
Huruf besar / huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku dan bahasa.
Contoh :
bangsa Indonesia
suku Jawa
bahasa Belanda
tetapi perhatikan penulisan dibawah ini :
mengindonesiakan kata-kata asing
kebelanda-belandaan
Huruf besar / huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama hari, bulan, tahun, hari raya, dan peristiwa sejarah.
Contoh :
hari Selasa
bulan Agustus
tahun Saka
hari Natal
hari Lebaran
bulan Maulud
Perang Candu
Perang Salib
tahun Hijrah
tahun Masehi
hari Galungan
hari Waisak
Huruf besar / huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama khas dalam geografi.
Contoh :
Surabaya
Asia Tenggara
Danau Toba
Gunung Merapi
Bukit Barisan
Jalan Mojopahit
Kali Serayu
Jazirah Arab
Laut Jawa
Selat Sunda
Tanjung Harapan
Terusan Panama
Sungai Ciliwung
Huruf besar / huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama resmi badan, lembaga pemerintahan, dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi.
Contoh :
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Dewan Perwakilan Rakyat
Kerajaan Sriwijaya
Piagam Jakarta
Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa
Huruf besar / huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata untuk nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan, kecuali kata partikel seperti : di, ke, dari, untuk, dan yang, yang mana tidak terletak pada posisi awal
Contoh :
Azab dan Sengsara
Buana Minggu
Pelajaran Bahasa Indonesia untuk Sekolah Menengah Atas
Dari Ave Mari ke Jalan Lain ke Roma
Huruf besar / huruf kapital dipakai dalam singkatan nama, gelar dan sapaan.
Contoh :
Ir. Insinyur
Ny. Nyonya
Nn. Nona
Sdr. Saudara
Prof. Profesor
S.E. Sarjana Ekonomi
S.H. Sarjana Hukum
M.A. Master of Arts.
dr. Dokter
Huruf besar / huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan, seperti : bapak, ibu, adik, saudara, kakak, dan paman yang dipakai sebagai kata ganti atau sapaan.
Contoh :
Kapan Ayah datang?
Itu siapa, Bu?
Besok Adik dan Paman akan datang.
Mereka semua pergi kerumah Pak Camat.
Kakak dan Adik berkunjung kerumah Ibu Sumarni
Catatan :
Huruf besar / huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang tidak dipakai sebagai kata ganti atau sapaan.
Contoh :
Semua karyawan mengikuti upacara.
Semua lurah dan camat hadir di kecamatan.
Kita wajib menghormati bapak dan ibu kita.
mengindonesiakan kata-kata asing
kebelanda-belandaan
Huruf besar / huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama hari, bulan, tahun, hari raya, dan peristiwa sejarah.
Contoh :
hari Selasa
bulan Agustus
tahun Saka
hari Natal
hari Lebaran
bulan Maulud
Perang Candu
Perang Salib
tahun Hijrah
tahun Masehi
hari Galungan
hari Waisak
Huruf besar / huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama khas dalam geografi.
Contoh :
Surabaya
Asia Tenggara
Danau Toba
Gunung Merapi
Bukit Barisan
Jalan Mojopahit
Kali Serayu
Jazirah Arab
Laut Jawa
Selat Sunda
Tanjung Harapan
Terusan Panama
Sungai Ciliwung
Huruf besar / huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama resmi badan, lembaga pemerintahan, dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi.
Contoh :
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Dewan Perwakilan Rakyat
Kerajaan Sriwijaya
Piagam Jakarta
Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa
Huruf besar / huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata untuk nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan, kecuali kata partikel seperti : di, ke, dari, untuk, dan yang, yang mana tidak terletak pada posisi awal
Contoh :
Azab dan Sengsara
Buana Minggu
Pelajaran Bahasa Indonesia untuk Sekolah Menengah Atas
Dari Ave Mari ke Jalan Lain ke Roma
Huruf besar / huruf kapital dipakai dalam singkatan nama, gelar dan sapaan.
Contoh :
Ir. Insinyur
Ny. Nyonya
Nn. Nona
Sdr. Saudara
Prof. Profesor
S.E. Sarjana Ekonomi
S.H. Sarjana Hukum
M.A. Master of Arts.
dr. Dokter
Huruf besar / huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan, seperti : bapak, ibu, adik, saudara, kakak, dan paman yang dipakai sebagai kata ganti atau sapaan.
Contoh :
Kapan Ayah datang?
Itu siapa, Bu?
Besok Adik dan Paman akan datang.
Mereka semua pergi kerumah Pak Camat.
Kakak dan Adik berkunjung kerumah Ibu Sumarni
Catatan :
Huruf besar / huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang tidak dipakai sebagai kata ganti atau sapaan.
Contoh :
Semua karyawan mengikuti upacara.
Semua lurah dan camat hadir di kecamatan.
Kita wajib menghormati bapak dan ibu kita.
HURUF MIRING
Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk :Menulis nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam karangan.
Contoh :
surat kabar Buana Minggu
Sutasoma karangan Mpu Tantular
majalah Olahraga dan Kesehatan
Menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, atau kelompok kata.
Contoh :
Pasal itu tidak memuat ketentuan hukum
Buatlah kalimat dengan berjalan cepat
Huruf pertama kata makan adalah m
Menuliskan kata nama-nama ilmiah, atau ungkapan asing kecuali yang telah disesuaikan ejaannya.
Contoh :
Penggunaan kata training centre sebaiknya diganti dengan pemusatan latihan
Zea n.ays nama latin dari tanaman jagung
Ora Et Labora artinya bekerja sambil berdoa.
Catatan:
Dalam tulisan tangan atau ketikan, huruf atau kata yang akan dicetak miring diberi satu garis mendatar dibawahnya.
Demikianlah artikel mengenai Tata Cara Penulisan Huruf Kapital dan Huruf Miring. Terima kasih kepada materisekolah.comsebagai sumber informasi. Semoga uraian ini dapat memberikan manfaat. Akses-Ilmu

Cara Menulis Daftar Pustaka dan Catatan Kaki. Kali ini Akses-Ilmu akan berbagi tips menulis daftar pustaka dan catatan kaki yang benar. Hal tersebut bertujuan agar para pembaca memahami bagaimana tata cara penulisan daftar pustaka dari berbagai seumber dan bagaimana cara menulis catatan kaki dari berbagai sumber pula.
Di samping itu, penulis akan memberikan contoh perbedaan penulisan di antara catatan kaki dan daftar pustaka.
Di samping itu, penulis akan memberikan contoh perbedaan penulisan di antara catatan kaki dan daftar pustaka.
Contoh Daftar Pustaka
1. Buku
Nama Pengerang. Tahun terbit. Judul Buku. Kota terbit: Penerbit.
Contoh:
Keraf, Gorys. 1980. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia.
2. Artikel dari koran
Nama Penulis. Tahun terbit. “Judul Artikel”. Nama Koran. Tanggal terbit.
Contoh:
Tabah, Anton. 1984. “Polwan Semakin Efektif dalam Penegakan Hukum”. Sinar Harapan, 1 September 1984.
3. Artikel dari majalah
Nama Penulis. Tahun terbit. “Judul Artikel”. Nama Majalah Nomor edisi.
Contoh:
Kleiden, Ignas. 2005. “Politik Perubahan Tanpa Perubahan Politik”. Tempo No. 50 tahun XXXIII.
4. Artikel dari Internet
Nama Penulis. Tahun dibuatnya artikel (jika ada). “Judul Artikel”. Alamat situs. Tanggal diaksesnya artikel.
Contoh:
Malik, Aji Istofana. 2006. “Cara Menulis Daftar Pustaka dan Catatan Kaki”. http://akses-ilmu.blogspot.com/2013/10/cara-menulis-daftar-pustaka-dan-catatan-kaki.html. Diakses tanggal 15 September 2010.
Contoh Catatan Kaki
1. Buku
Nomor Nama Pengerang, Judul Buku (Kota terbit: Penerbit, Tahun terbit), hal.
Contoh:
Keraf, Gorys, Diksi dan Gaya Bahasa (Jakarta: Gramedia, 1980), hal. 18.
2. Artikel dari koran
Nomor Nama Penulis, “Judul Artikel”, Nama Koran, Tanggal terbit, hal.
Contoh:
Tabah, Anton, “Polwan Semakin Efektif dalam Penegakan Hukum”, Sinar Harapan, 1 September 1984, hal. 25-26.
3. Artikel dari majalah
Nomor Nama Penulis, “Judul Artikel”, Nama Majalah, Tanggal terbit, hal.
Contoh:
Kleiden, Ignas, “Politik Perubahan Tanpa Perubahan Politik”, Tempo, 1 Januari 2005, hal. 45.
4. Artikel dari Internet
Nomor Nama Penulis, “Judul Artikel” (online), Alamat situs.
Contoh:
Malik, Aji Istofana, “Cara Menulis Daftar Pustaka dan Catatan Kaki” (online), http://akses-ilmu.blgospt.com/2013/10/cara-menulis-daftar-pustaka-dan-catatan-kaki.html
Note:
- Nama penulis ditulis secara terbalik, yaitu nama paling belakang ditulis di awal dan diberi tanda koma. Misal nama penulis adalah Auriga Maulana Khasan ditulis menjadi Khasan, Auriga Maulana.
- Ketika penulisan daftar pustaka dan catatan kaki menjadi dua baris atau lebih, maka baris kedua dan seterusnya ditulis secara menjorok
- Penulisan nomor pada catatan kaki ditulis lebih kecil, semisal dengan font size 9
Demikianlah artikel mengenai Cara Menulis Daftar Pustaka dan Catatan Kaki. Semoga bermanfaat dan dapat memebrikan tambahan wawasan. Akses-Ilmu
Paragraf atau Karangan Argumentasi. Paragraf Argumentasi adalah paragraf yang mengungkapkan ide, gagasan, atau pendapat penulis dengan disertai bukti dan fakta. Argumentasi merupakan suatu karangan yang memberikan alasan kuat dan meyakinkan. Dalam argumentatif, penulis menyampaikan pendapat yang disertai penjelasan dan alasan yang kuat dengan maksud agar pembaca bisa terpengaruh.Dasar karangan argumentasi adalah berpikir kritis dan logis. Oleh karena itu, harus berdasarkan pada fakta-fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.
Fakta-fakta tersebut dapat diperoleh dengan berbagai cara, antara lain:
1.bahan bacaan (buku, majalah, surat kabar, atau internet);
2.wawancara atau angket;
3.penelitian atau pengamatan langsung melalui observasi.
Agar lebih mudah, Anda dapat menulis paragraf argumentatif dengan langkah-langkah sebagai berikut.
- Daftarlah topik-topik pendapat yang dapat dikembangkan.
- Susunlah kerangka paragraf yang akan dibuat.- Kembangkan kerangka tersebut menjadi paragraf.
- Anda dapat menggunakan kata penghubung antarkalimat (oleh karena itu, dengan demikian, oleh sebab itu, dan lain-lain).
Ciri-ciri Pargaraf atau karangan argumentasi:
1. Menjelaskan pendapat agar pembaca yakin mengenai topik yang dibahas.2. Memerlukan fakta untuk pembuktian berupa gambar/grafik, dan lain-lain.
3. Menggali sumber ide dari pengamatan, pengalaman, dan penelitian.
4. Penjelasan dalam paragraf argumentasi disampaikan secara logis
5. Penutup berisi kesimpulan.
Karakteristik paragraf argumentasi:
- Kalimat utama/pendahuluan berupa pernyataan/gagasan penulis yang menarik perhatian pembaca
- Diikuti kalimat-kalimat penjelas yang berisi argumen-argumen untuk meyakinkan atau membuktikan kebenaran gagasan awal penulis
- Ditutup dengan kesimpulan yang menegaskan gagasan awal penulis
Karangan argumentasi dan eksposisi seringkali sulit dibedakan. Bentuk keduanya hampir sama. Meskipun demikian, keduanya memiliki perbedaan.
Perbedaan argumentasi dengan eksposisi:
Bagian Karangan
|
Argumentasi
|
Eksposisi
|
Pembuka atau pendahuluan
|
Menarik perhatian pembaca pada persoalan yang akan dikemukakan.
|
Memperkenalkan kepada pembaca tentang topik yang akan dipaparkan dan tujuan paparan tersebut.
|
Tujuan | Meyakinkan pembaca. | Memberi informasi atau menjelaskan kepada pembaca agar pembaca memperoleh gambaran yang jelas. |
Penggunaan data, contoh, gambar, dsb (Alasan) | Untuk membuktikan bahwa apa yang dikemukakan penulis dalam tulisan itu benar. | Untuk lebih menjelaskan atau memperjelas isi karangan. |
Penutup | Menyimpulkan apa yang telah diuraikan pada pembahasan sebelumnya. | Menegaskan lagi apa yang telah diuraikan sebelumnya. |
Paragraf argumentasi mempunyai dua pola pengembangan, yaitu sebagai berikut:
1. Sebab ke Akibat, yaitu jenis pola pengembangan paragraf argumentasi yang berawal dari peristiwa yang dianggap sebagai penyebab, lalu menuju kepada kesimpulan yang berupa efek atau akibat yang ditimbulkan dari peristiwa tersebut.
2. Akibat ka Sebab, merupakan kebalikan dari pola pengembangan paragraf argumentasi yang sebelumnya. Paragraf ini dimulai dari menjelaskan suatu masalah yang dianggap sebagai akibat lalu bergerak menuju hal-hal yang dianggap sebagai penyebab masalah tadi.
Pola sebab-akibat
Pola sebab-akibat yaitu satu sebab yang menimbulkan beberapa akibat.Misal:
Sebab: Hujan turun__________akibat 1 jemuran basah
akibat 2 tanah becek
akibat 3 got penuh air
dsb.
Pola akibat-sebab
Pola akibat-sebab yaitu satu akibat yang terjadi karena beberapa sebab.Misal:
akibat: lingkungan rusak__________sebab 1: penebangan hutan
sebab 2: pembuangan sampah
sebab 3: penambangan liar
dsb.
Pola sebab-akibat yang bertalian
Pola sebab-akibat yang bertalian yaitu satu sebab menimbulkan satu akibat yang menjadi sebab dari akibat yang timbul berikutnya.Sebab1________akibat1 (sebab2)_______akibat2 (sebab3)_______akibat3 (sebab4) dan seterusnya.
Misal:
Sebab1: Semalam hujan turun ________Akibat1: air menggenang (menjadi sebab2) _______Akibat2: jalan-jalan banjir (menjadi sebab3)____________Akibat3: lalu lintas macet. dan seterusnya…
Contoh Paragraf Argumentasi Sebab Akibat:
Pendidikan merupakan salah satu faktor penentu maju mundurnya suatu bangsa. Adalah sebuah fakta yang tak terbantahkan lagi bahwa pendidikan di indonesia adalah pendidikan yang sangat mahal dan tak terjangkau bagi masyarakat tak mampu. Pada tahun 2010 saja terdapat 1,08 juta siswa SD hingga SMA yang putus sekolah. Biaya pendidikan yang mahal diperkirakan menjadi sebab tingginya angka putus sekolah di tahun 2010 tersebut.Contoh Paragraf Argumentasi Akibat Sebab:
Kerusakan lingkungan merupakan salah satu masalah terbesar yang dihadapi oleh umat manusia di era modern sekarang ini. Hampir setiap hari kita selalu disuguhi dengan berita-berita tentang berbagai macam bencana alam seperti banjir, tanah longsor, kekeringan dan berbagai macam bencana alam lain yang telah memakan banyak sekali korban baik harta maupun nyawa. Bencana-bencana alam "buatan" yang sering terjadi saat ini, tak lain dan tak bukan adalah akibat dari pola hidup sebagian besar manusia modern yang tidak ramah lingkungan.1. Sebagai orang awam, saya menganggap kenaikan BBM ini sangat meresahkan dan menyulitkan masyarakat, terutama masyarakat kecil. Bagi masyarakat yang mampu mungkin itu tidak akan menjadi masalah, tetapi bagi masyarakat kecil, hal ini akan berakibat fatal. Biaya hidup mereka akan lebih besar, padahal kemampuan mereka sangat minim. Kondisi sebelum BBM naik saja sudah kembang kempis, apalagi setelah BBM naik, mungkin mereka hanya bisa malan pagi. Bahkan, mungkin banyak yang kelaparan secara terselubung.
2. Memilih SMA tanpa pertimbangan yang matang hanya akan menambah pengangguran karena pelajaran di SMA tidak memberi bekal bekerja. Menurut Iskandar, sudah saatnya masyarakat mengubah paradigma agar lulusan SMP tidak latah masuk SMA. Kalau memang lebih berbakat pada jalur profesi sebaiknya memilih SMK. Dia mengingatkan sejumlah risiko bagi lulusan SMP yang sembarangan melanjutkan sekolah. Misalnya, lulusan SMP yang tidak mempunyai potensi bakat-minat ke jalur akademik sampai perguruan tinggi, tetapi memaksakan diri masuk SMA, dia tidak akan lulus UAN karena sulit mengikuti pelajaran di SMA. Tetapi tanpa lulus UAN mustahil bisa sampai perguruan tinggi.
3. Akibat perkembangan perekonomian dan pertambahan jumlah penduduk, komsumsi energi di dalam negeri juga meningkat. Kebutuhan gas di pulau jawa pada tahun 2002 sebanyak 943 juta kaki kubik per hari (MMCFD). Tahun 2005, meningkat menjadi 1,136 MMCFD. Pada tahun 2010, kebutuhan gas di pulau jawa diperkirakan 2.252 MMCFD dan tahun 2015, sebanyak 3,441 MMCFD.
4. Pendidikan gratis hanya janji yang bergema luas saat kampanye dan pemilihan pimpinan daerah maupun pusat. Saat pemilihan usai akan lain ceritanya. Anak-anak miskin di kota, desa, dan pedalaman tetap mengalami kesulitan untuk mengakses pendidikan yang layak. Di perkotaan sekolah berlomba-lomba meningkatkan sarana dan prasaran dengan jalan menaikkan pungutan dengan dalil sumbangan pendidikan, uang gedung, dan lain-lain karena biasanya masyarakat perkotaan lebih memilih sekolah yang mempunyai sarana pendidikan yang baik sehingga mereka tidak akan segan untuk membayar mahal demi memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak-anak mereka. Sebaliknya di pinggiran kota, pedesaan, dan pedalaman, sekolah tidak bisa mengenakan pungutan kepada orang tua siswa karena tidak ada lagi yang bisa dipungut dari masyarakat. Para siswa harus puas dengan kondisi fasilitas pendidikan yang jauh dari kata layak.
5. Kebiasaan menabung sejak dini memberi manfaat besar bagi orang yang melakukannya. Dengan menabung, secara tidak langsung seseorang berusaha menata hidupnya. Seperti sering terjadi, dalam hidup banyak kejadian yang tidak terduga, seperti sakit, tertimpa musibah, mendaftar sekolah, dan sebagainya. Hal-hal tersebut tentu memerlukan biaya. Dengan memiliki tabungan, seseorang tidak akan terlalu panik ketika berhadapan dengan kejadian yang tidak terduga itu. Mereka akan lebih mudah menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Jadi, kegiatan menabung adalah tindakan yang menguntungkan.
6. Menurut Iskandar, sudah saatnya masyarakat mengubah paradigma agar lulusan SMP tidak latah masuk SMA. Kalau memang lebih berbakat pada jalur profesi sebaiknya memilih SMK. Dia mengingatkan sejumlah risiko bagi lulusan SMP yang sembarangan melanjutkan sekolah. Misalnya, lulusan SMP yang tidak mempunyai potensi bakat-minat ke jalur akademik sampai perguruan tinggi, tetapi memaksakan diri masuk SMA, dia tidak akan lulus UAN karena sulit mengikuti pelajaran di SMA. Tanpa lulus UAN mustahil bisa sampai perguruan tinggi. Pada akhirnya mereka akan menjadi pengangguran karena pelajaran di SMA tidak memberi bekal untuk bekerja. Jadi, memilih SMA tanpa pertimbangan yang matang hanya akan menambah pengangguran.
Demikianlah artikel mengenai Definisi dan Contoh Paragraf Argumentasi. Untuk menambah wawasan Anda, silakan lihat juga pembahasan mengenai Jenis-Jenis Paragraf. Semoga bermanfaat. Akses-Ilmu.
Variasi Makna Bahasa Indonesia. Bahasa adalah sebuah sistem lambang bunyi arbitrer yang digunakan oleh masyarakat untuk tujuan komunikasi. Sifat arbitrer dalam bahasa ini menurut Chaer (1989:32), dengan menggunakan istilah De Saussure, diartikan bahwa tidak ada hubungan spesifik antara deretan fonem pembentuk kata dengan maknanya. Dengan demikian, tidak ada hubungan langsung antara yang diartikan (signifie) dengan yang mengartikan (signifiant). Demikian juga menurut Lyon (1977:96), dengan meminjam istilah segitiga semiotik, tidak ada hubungan langsung antara lambang (symbol) dengan acuan (referent).
Tidak ada alasan yang kuat mengapa konsep tertentu harus dihubungkan dengan dengan lambang yang berwujud deretan bunyi atau deretan huruf. Umpamanya tanda linguistik lisan yang dieja ”laptop,” tanda ini terdiri dari unsur makna atau diartikan ’laptop’ dan unsur bunyi yang mengartikan dalam wujud runtutan fonem [l, a, p, p, t, o, p], atau tanda linguistik tulisan ”laptop” yang terdiri dari unsur makna atau diartikan ’laptop’ dan unsur huruf yang mengartikan dalam wujud runtutan huruf l, a, p, t, o, p, tanda ini ini mengacu kepada suatu referen yang berada di luar bahasa, yaitu laptop sebagai salah satu alat elektronik berjenis komputer, yang biasanya digunakan untuk mengetik. Dengan demikian, kata laptop adalah hal yang menandai (tanda linguistik) dan sebuah laptop sebagai alat elektronik (konsep) adalah hal yang ditandai.
Kearbriteran makna membuat bahasa manusia menjadi kreatif. Manusia tidak hanya mampu menciptakan kata-kata baru, mereka juga mampu memainkan sebuah kata, atau frasa, atau kalimat untuk merujuk pada sebuah objek yang berbeda. Seperti contoh kata ”virus,” yang berarti benda organik yang ukurannya sangat kecil dan berbahaya bagi tubuh karena dapat menyebabkan manusia sakit, dengan kekreatifitasan manusia yang ditunjang oleh kearbriteraran bahasa mereka, dapat digunakan tidak hanya konteks sesuatu yang membahayakan manusia tetapi juga dalam konteks sesuatu yang membahayakan program komputer.
Kemampuan memainkan bahasa ini makin terlihat jelas dewasa ini. Memasuki dunia globalisasi yang di dalamnya terdapat banyak dinamika sosial, menyebabkan manusia tanpa disengaja telah membangkitkan era komunikasi modern. Arus informasi yang demikian kuatnya berhembus sebagai akibat dari diciptakannya piranti-piranti pendukung komunikasi seperti surat kabar, radio, telpon sesuler, televisi dan inernet, menyebabkan banyak pihak, utamanya kalangan berpendidikan sangat mengandalkan bahasa sebagai mediator komunikasi antar manusia. Dengan demikian, kemampuan komunikatif yang baik serta ketrampilan
dalam memanfaatkan bahasa, menjadi sangat penting artinya.
Media massa sebagai pelopor arus komunikasi ini berperan demikian dominan dalam memimpin dan menginspirasi manusia untuk memanfaatkan bahasa. Banyak sekali istilah-istilah, ungkapan-ungkapan, idiom-idiom, peribahasa baru digagas dan dimunculkan oleh media massa. Masyarakat, sebagai konsumen dari media tentunya tanpa pikir panjang akan menggunakan ”hal baru ini” karena mereka berpikir, jika tidak melakukannya, mereka akan dicap sebagai orang yang ketinggalan informasi. Dengan demikian, di era modern ini, media massa seakan berperan sebagai ”pabrik” bahasa, dan ironisnya, entah ”produk pabrik” ini
berkualitas ataukah tidak, masyarakat tetap saja memakainya.
Jika dalam ilmu kesusastraan dan stilistika terdapat istilah Licentia Poetica yaitu kebebasan seorang sastrawan untuk menyimpang dari kenyataan baik dari bentuk atau aturan konvensional bahasa untuk menghasilkan efek yang dikehendakinya (Shaw, 1972), maka dalam dunia media informasi, media massa atau tepatnya wartawan, memiliki apa yang disebut Licentia Coinage, yaitu kebebasan seorang wartawan untuk menciptakan, atau mengalihkan makna dasar kata sesuai selera untuk menghasilkan efek tertentu. Dengan bekal inilah media massa membentuk dan ”menjajah” masyarakat melalui bahasa.
Pada satu sisi, keberadaan media massa sangat penting bagi masyarakat, namun pada sisi lain, dengan adanya Licentia Coinage ini, distorsi perkembangan bahasa, utamanya bahasa Indonesia mulai muncul. Penggunaan kata-kata sarkasme atau sadis di media massa, berkurangnya penggunaan ungkapan bernuansa kebajikan, memudarnya penggunaan ungkapan bernuansa budaya dan lingkungan (Wahab, 2001), banyak dijumpai. Ini semua merupakan dampak dari Licentia Coinage yang dimiliki wartawan. Terdapat juga banyak istilah-istilah, idiom idiom yang tidak dipahami masyarakat. Akibatnya masyarakat cenderung memaknai ungkapan-ungkapan baru tersebut secara literal sehingga akibatnya teks-teks yang mengandung metafora tersebut dimaknai menyimpang. Problematika ini tentunya merupakan masalah rumit sekaligus menarik untuk diungkap melalui perspektif linguistik.
Sebagai sebuah produk dari peneltian linguistik, maka artikel ini mengulas perubahan makna kata atau frase yang memiliki makna menyimpang sebagai produk dari Licentia Coinage wartawan yang muncul dalam media massa.
C. Fakus dan Objek Kajian
Mengingat bahwa sebuah penelitian haruslah fokus dan mendalam, maka penelitian yang telah peneliti laksanakan dibatasi oleh background peneliti, durasi penelitian, serta kemampuan meneliti dalam menyediakan, menganalisis serta menyajikan data. Background peneliti adalah linguistik dan durasi penelitian ini adalah satu minggu. Dengan adanya bankground dan keterbatasan ini, maka penelitian ini bertolak dari sudut pandang salah satu bidang ilmu Linguistik yaitu Semantik, dengan berfokus pada variasi makna yang ada dalam surat kabar. Dengan durasi waktu yang terbatas, maka kajian ditentukan dengan mengambil Surat Kabar sebagai objeknya. Surat Kabar yang diteliti adalah harian Suara Merdeka, Jawa Pos, Republika yang terbit pada hari Kamis, 22 April 2010.
D. Jenis dan Metode Penelitian
Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dengan cara memerikan gejala kebahasaan secara cermat dan teliti berdasarkan fakta-fakta yang sebenarnya dengan tidak melibatkan angka. Adapun langkah-langkah penelitian dimulai dari: (a) penyediaan data yang berbentuk penggalan dari artikel yang terdapat dalam surat kabar Suara Merdeka, Jawa Pos, dan Republika yang terbit pada hari kams, 22 April 2010, (b) klasifikasi data dengan menggunakan teknik catat dan teknik simak (c) analisis data dengan menggunakan konsep-konsep semantik seperti metafora, metonomi, generalisasi, spesialisasi, litotes, sarkasme dan ironi (d) penyajian hasil penelitian dalam bentuk paper.
E. Hasil dan Pembahasan
Dari hasil pengklasifikasian data dengan menggunakan teknik simak dan catat, ditemukan beberapa petikan kalimat di surat kabar yang mengandung variasi semantik (variasi makna). Adapun klasifikasi variasi makna dalam surat kabar beserta analisisnya adalah sebagai berikut:
E.1. Metafora
Metafora disebutkan oleh Pradopo (1994:66) merupakan bentuk perbandingan dua hal secara langsung, tetapi dalam bentuk yang singkat. Ullman dalam Sumarsono (2007) mendefinisikan metafora sebagai perbandingan rinkas (luluh, lebur, menyatu) yang menggunakan intuisi dan tanda konkret
Gaya metafora itu melihat sesuatu dengan perantaraan benda yang lain. Metafora sebagai pembanding langsung tidak menggunakan kata-kata seperti dan lain-lain, sehingga pokok pertama langsung dihubungkan dengan pokok kedua. Salah satu unsur yang dibandingkan, yaitu citra, memiliki sejumlah komponen makna dan biasanya hanya satu dari komponen makna tersebut yang relevan dan juga dimiliki oleh unsur kedua, yaitu topik.
Ulmann (dalam Sumarsono, 2007) dan Parera (2004:119) membedakan metafora ke dalam empat jenis, yakni (1) metafora bercitra antropomorfik, (2) metafora bercitra hewan, (3) metafora bercitra abstrak ke konkret, (4) metafora bercitra sinestesia atau pertukaran tanggapan/persepsi indra.
(a) Metafora Bercitra Antropomorfik
Metafora bercitra antropomorfik merupakan satu gejala semesta. Para pemakai bahasa ingin membandingkan kemiripan pengalaman dengan apa yang terdapat pada dirinya atau tubuh mereka sendiri. Metafora antropomorfik dalam banyak bahasa dapat dicontohkan dengan mulut botol, jantung kota, bahu jalan, dan lain-lain.
Adapun kata atau frase yang mengandung variasi makna metafora antropomorfik yang ada di surat kabar adalah:
Tidak ada alasan yang kuat mengapa konsep tertentu harus dihubungkan dengan dengan lambang yang berwujud deretan bunyi atau deretan huruf. Umpamanya tanda linguistik lisan yang dieja ”laptop,” tanda ini terdiri dari unsur makna atau diartikan ’laptop’ dan unsur bunyi yang mengartikan dalam wujud runtutan fonem [l, a, p, p, t, o, p], atau tanda linguistik tulisan ”laptop” yang terdiri dari unsur makna atau diartikan ’laptop’ dan unsur huruf yang mengartikan dalam wujud runtutan huruf l, a, p, t, o, p, tanda ini ini mengacu kepada suatu referen yang berada di luar bahasa, yaitu laptop sebagai salah satu alat elektronik berjenis komputer, yang biasanya digunakan untuk mengetik. Dengan demikian, kata laptop adalah hal yang menandai (tanda linguistik) dan sebuah laptop sebagai alat elektronik (konsep) adalah hal yang ditandai.
Kearbriteran makna membuat bahasa manusia menjadi kreatif. Manusia tidak hanya mampu menciptakan kata-kata baru, mereka juga mampu memainkan sebuah kata, atau frasa, atau kalimat untuk merujuk pada sebuah objek yang berbeda. Seperti contoh kata ”virus,” yang berarti benda organik yang ukurannya sangat kecil dan berbahaya bagi tubuh karena dapat menyebabkan manusia sakit, dengan kekreatifitasan manusia yang ditunjang oleh kearbriteraran bahasa mereka, dapat digunakan tidak hanya konteks sesuatu yang membahayakan manusia tetapi juga dalam konteks sesuatu yang membahayakan program komputer.
Kemampuan memainkan bahasa ini makin terlihat jelas dewasa ini. Memasuki dunia globalisasi yang di dalamnya terdapat banyak dinamika sosial, menyebabkan manusia tanpa disengaja telah membangkitkan era komunikasi modern. Arus informasi yang demikian kuatnya berhembus sebagai akibat dari diciptakannya piranti-piranti pendukung komunikasi seperti surat kabar, radio, telpon sesuler, televisi dan inernet, menyebabkan banyak pihak, utamanya kalangan berpendidikan sangat mengandalkan bahasa sebagai mediator komunikasi antar manusia. Dengan demikian, kemampuan komunikatif yang baik serta ketrampilan
dalam memanfaatkan bahasa, menjadi sangat penting artinya.
Media massa sebagai pelopor arus komunikasi ini berperan demikian dominan dalam memimpin dan menginspirasi manusia untuk memanfaatkan bahasa. Banyak sekali istilah-istilah, ungkapan-ungkapan, idiom-idiom, peribahasa baru digagas dan dimunculkan oleh media massa. Masyarakat, sebagai konsumen dari media tentunya tanpa pikir panjang akan menggunakan ”hal baru ini” karena mereka berpikir, jika tidak melakukannya, mereka akan dicap sebagai orang yang ketinggalan informasi. Dengan demikian, di era modern ini, media massa seakan berperan sebagai ”pabrik” bahasa, dan ironisnya, entah ”produk pabrik” ini
berkualitas ataukah tidak, masyarakat tetap saja memakainya.
Jika dalam ilmu kesusastraan dan stilistika terdapat istilah Licentia Poetica yaitu kebebasan seorang sastrawan untuk menyimpang dari kenyataan baik dari bentuk atau aturan konvensional bahasa untuk menghasilkan efek yang dikehendakinya (Shaw, 1972), maka dalam dunia media informasi, media massa atau tepatnya wartawan, memiliki apa yang disebut Licentia Coinage, yaitu kebebasan seorang wartawan untuk menciptakan, atau mengalihkan makna dasar kata sesuai selera untuk menghasilkan efek tertentu. Dengan bekal inilah media massa membentuk dan ”menjajah” masyarakat melalui bahasa.
Pada satu sisi, keberadaan media massa sangat penting bagi masyarakat, namun pada sisi lain, dengan adanya Licentia Coinage ini, distorsi perkembangan bahasa, utamanya bahasa Indonesia mulai muncul. Penggunaan kata-kata sarkasme atau sadis di media massa, berkurangnya penggunaan ungkapan bernuansa kebajikan, memudarnya penggunaan ungkapan bernuansa budaya dan lingkungan (Wahab, 2001), banyak dijumpai. Ini semua merupakan dampak dari Licentia Coinage yang dimiliki wartawan. Terdapat juga banyak istilah-istilah, idiom idiom yang tidak dipahami masyarakat. Akibatnya masyarakat cenderung memaknai ungkapan-ungkapan baru tersebut secara literal sehingga akibatnya teks-teks yang mengandung metafora tersebut dimaknai menyimpang. Problematika ini tentunya merupakan masalah rumit sekaligus menarik untuk diungkap melalui perspektif linguistik.
Sebagai sebuah produk dari peneltian linguistik, maka artikel ini mengulas perubahan makna kata atau frase yang memiliki makna menyimpang sebagai produk dari Licentia Coinage wartawan yang muncul dalam media massa.
C. Fakus dan Objek Kajian
Mengingat bahwa sebuah penelitian haruslah fokus dan mendalam, maka penelitian yang telah peneliti laksanakan dibatasi oleh background peneliti, durasi penelitian, serta kemampuan meneliti dalam menyediakan, menganalisis serta menyajikan data. Background peneliti adalah linguistik dan durasi penelitian ini adalah satu minggu. Dengan adanya bankground dan keterbatasan ini, maka penelitian ini bertolak dari sudut pandang salah satu bidang ilmu Linguistik yaitu Semantik, dengan berfokus pada variasi makna yang ada dalam surat kabar. Dengan durasi waktu yang terbatas, maka kajian ditentukan dengan mengambil Surat Kabar sebagai objeknya. Surat Kabar yang diteliti adalah harian Suara Merdeka, Jawa Pos, Republika yang terbit pada hari Kamis, 22 April 2010.
D. Jenis dan Metode Penelitian
Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dengan cara memerikan gejala kebahasaan secara cermat dan teliti berdasarkan fakta-fakta yang sebenarnya dengan tidak melibatkan angka. Adapun langkah-langkah penelitian dimulai dari: (a) penyediaan data yang berbentuk penggalan dari artikel yang terdapat dalam surat kabar Suara Merdeka, Jawa Pos, dan Republika yang terbit pada hari kams, 22 April 2010, (b) klasifikasi data dengan menggunakan teknik catat dan teknik simak (c) analisis data dengan menggunakan konsep-konsep semantik seperti metafora, metonomi, generalisasi, spesialisasi, litotes, sarkasme dan ironi (d) penyajian hasil penelitian dalam bentuk paper.
E. Hasil dan Pembahasan
Dari hasil pengklasifikasian data dengan menggunakan teknik simak dan catat, ditemukan beberapa petikan kalimat di surat kabar yang mengandung variasi semantik (variasi makna). Adapun klasifikasi variasi makna dalam surat kabar beserta analisisnya adalah sebagai berikut:
E.1. Metafora
Metafora disebutkan oleh Pradopo (1994:66) merupakan bentuk perbandingan dua hal secara langsung, tetapi dalam bentuk yang singkat. Ullman dalam Sumarsono (2007) mendefinisikan metafora sebagai perbandingan rinkas (luluh, lebur, menyatu) yang menggunakan intuisi dan tanda konkret
Gaya metafora itu melihat sesuatu dengan perantaraan benda yang lain. Metafora sebagai pembanding langsung tidak menggunakan kata-kata seperti dan lain-lain, sehingga pokok pertama langsung dihubungkan dengan pokok kedua. Salah satu unsur yang dibandingkan, yaitu citra, memiliki sejumlah komponen makna dan biasanya hanya satu dari komponen makna tersebut yang relevan dan juga dimiliki oleh unsur kedua, yaitu topik.
Ulmann (dalam Sumarsono, 2007) dan Parera (2004:119) membedakan metafora ke dalam empat jenis, yakni (1) metafora bercitra antropomorfik, (2) metafora bercitra hewan, (3) metafora bercitra abstrak ke konkret, (4) metafora bercitra sinestesia atau pertukaran tanggapan/persepsi indra.
(a) Metafora Bercitra Antropomorfik
Metafora bercitra antropomorfik merupakan satu gejala semesta. Para pemakai bahasa ingin membandingkan kemiripan pengalaman dengan apa yang terdapat pada dirinya atau tubuh mereka sendiri. Metafora antropomorfik dalam banyak bahasa dapat dicontohkan dengan mulut botol, jantung kota, bahu jalan, dan lain-lain.
Adapun kata atau frase yang mengandung variasi makna metafora antropomorfik yang ada di surat kabar adalah:
KONTEKS DENOTATIF | KONTEKS DALAM SURAT KABAR |
1.a. Karena rajin berolahraga, badan si Anton terlihat kekar
|
1.b. Longsoran tanah menutupi badan jalan (artikel dengan judul (Hujan Deras, Pondasi Dua Rumah Longsor (Jawa Pos))
|
Dari data 1a dan 1b kita dapat melihat bahwa ada perubahan makna kata badan, yang semula berarti bagian tubuh manusia (animate), mejadi bagian dari jalan(inanimate). Penulis artikel dengan menulis kalimat ini berusaha menyamakan manusia dengan jalan dengan menggunakan persamaan yaitu sama-sama memiliki badan.
(b) Metafora Bercitra Hewan
Metafora bercitra hewan, biasanya digunakan oleh pemakai bahasa untuk menggambarkan satu kondisi atau kenyataan di alam sesuai pengalaman pemakai bahasa. Metafora dengan unsur binatang cenderung dikenakan pada tanaman, misalnya kumis kucing, lidah buaya, kuping gajah. Dalam metafora bercitra hewan diungkapkan oleh Parera (2004:120) bahwa manusia disamakan dengan sejumlah takterbatas binatang misalnya dengan anjing, babi, kerbau, singa, buaya, dst sehingga dalam bahasa Indonesia kita mengenal peribahasa “Seperti kerbau dicocok hidung”, ungkapan “buaya darat”, dan ungkapan makian ”anjing, lu”, dan seterusnya.
Adapun kata atau frase yang mengandung variasi makna metafora bercitra hewan adalah:
KONTEKS DENOTATIF | KONTEKS DALAM SURAT KABAR |
|
2.b. Kita negara berdaulat. Untuk mengembangkan sawit atau komoditas apapun tidak bisa diatur-atur asing dan membebek mereka apalagi Cuma LSM (Lawan Kampanye
Hitam Sawit (Republika)) |
Kata bebek pada data 2a merujuk pada sejenis unggas yang bertubuh tidak terlalu besar, biasanya berbulu coklat, bisa berenang dan diternakkan oleh petani. Sedang data 2b merujuk pada sebuah perbuatan yang menyerupai hewan bebek. Ada perubahan makna disini. Bebek biasanya bergerombol, mudah diatur karena jalannya kurang gesit, serta selalu mengikuti kemana langkah bebek dewasa atau pemimpin kelompok bebek tersebut. Sifat ini dianggap bercitra negatif karena menunjukkan kelemahan. Dengan menggunakan bebek yang lemah sebagai pembanding, bangsa Indonesia dimetaforakan sebagai bangsa yang lemah apabila mau saja diatur oleh bangsa asing
(c) Metafora Bercitra Konkret ke Abstrak
Metafora bercitra konkret ke abstrak, adalah mengalihkan ungkapan-ungkapan yang abstrak ke ungkapan yang lebih konkret. Seringkali pengalihan ungkapan itu masih bersifat transparan tetapi dalam beberapa kasus penelusuran etimologi perlu dipertimbangkan untuk memenuhi metafora tertentu. Dicontohkan oleh Parera, secepat kilat ‘satu kecepatan yang luar biasa’, moncong senjata ‘ujung senjata’, dan lain-lain.
Adapun kata atau frase yang mengandung variasi makna metafora bercitra abstrak ke konkret adalah:
KONTEKS DENOTATIF | KONTEKS DALAM SURAT KABAR |
3.a. Ilustrasi buku itu sangat menarik sekali, sangat lucu dan penuh warna
|
3.b. Koruptor itu kan punya 3 kekuatan, diantaranya duit. Anggodo itu kan salah satu ilustrasinya, tandasya (Judul artikel: KPK salahkan SBY (Suara Merdeka))
|
Pada data 3a terdapat kata ilustrasi yang berarti gambar atau penjelas untuk membantu memahami informasi yang disampaikan dalam buku. Makna ilustrasi ini berubah ketika ilustrasi berada pada konteks 3b. Pada data 3b, terjadi penyamaan benda konkret yaitu Anggodo dengan benda Abstrak yaitu ilustrasi sehingga menyebabkan benda konkret Anggodo menjadi benda abstrak dalam konteks tersebut. Metafora seperti inilah yan disebut metafora berciri abstrak ke konkret.
(d) Metafora Bercitra Sinestesia
Metafora bercitra sinestesia, merupakan salah satu tipe metafora berdasarkan pengalihan indra, pengalihan dari satu indra ke indra yang lain. Dalam ungkapan sehari-hari orang sering mendengar ungkapan “enak didengar” untuk musik walaupun makna enak selalu dikatkan dengan indra rasa; “sedap dipandang mata” merupakan pengalihan dari indra rasa ke indra lihat.
Adapun kata atau frase yang mengandung variasi makna metafora sinestesia adalah:
KONTEKS DENOTATIF | KONTEKS DALAM SURAT KABAR |
4.a. Taman itu dipenuhi oleh beraneka bunga yang baunya harum sekali
|
4.b. Nama Darwati begitu harum di tanah air (Mereka memanggilnya Latifah)
|
Pada data 4a dan 4b, terjadi perubahan makna kata harum. Pada data 4a, kata harum mengacu kepada sebuah sifat bau positif yang hanya bisa dikenali oleh indera penciuman. Pada 4b, terjadi penyimpangan makna dengan menyamakan nama dengan bunga yang mengeluarkan bau haum. Nama tidak dapat dicium baunya, sehingga muculnya kata harum setelah kata nama merupakan bahasa yang tidak sebenarnya atau yang kita kenal sebagai bahasa figuratif. Sifat yang dibandingkan adalah kedua entitas (bunga dan nama) dianggap memiliki sifat positif yang sama yaitu dapat dirasakan dari jarak yang jauh, serta diskai oleh banyak orang. Bau harum bunga dapat tercium dari tempat jauh. Demikian juga nama seseorang yang berjasa pada bangsa akan dapat dikenal dari jarak yang jauh juga.
E.2. Personifikasi
Personifikasi adalah perubahan makna yang disebabkan oleh pemakai bahasa menyamakan benda (inanimate) dan hewan/tumbuhan (animate) dengan manusia.Adapun kata atau frase yang mengandung variasi makna metafora personifikasi adalah:
KONTEKS DENOTATIF | KONTEKS DALAM SURAT KABAR |
5.a. Dengan kecepatan yang luar biasa, pendekar itu mengayunkan pedangnya untuk menebas batang bambu yang jatuh menimpanya
6.a. Karena dihujani tiap hari, rumput-rumput layu tersebut akhirnya segar kembali |
5.b. Beberapa ranting pohon patah ditebas angin (Dari Tambling untuk Iklim Dunia (Republika))
6.b. Ribuan meteor Lyrids diperkirakan jatuh bertubi-tubi menghujani atmosfer bumi (Jawa Pos). |
Pada data 5b dan 6b terdapat fenomena personifikasi dengan “menghidupkan” angin dan meteor dan menyamakannya engan manusia. Pada data 5b, kata angin digambarkan memiliki kemampuan seperti manusia yaitu melakukan kegiaan menebas. Demkian juga pada data 6b, kata meteor diletakkan dalam posisi memiliki kemampuan seperti manusia yaitu melakukan kegiatan menghijani sesuatu. Penghidupan dan pentamaan benda mati diatas menjadi seperti manusia inlah yang disebut personifikasi.
E.3. Metonimi
Kata metonimia diturunkan dari kata Yunani meta yang berarti menunjukkan perubahan dan onoma yang berarti nama. Dengan demikian, metonimia adalah suatu gaya bahasa yang mempergunakan sebuah kata untuk menyatakan suatu hal lain, karena mempunyai pertalian yang sangat dekat. Hubungan itu dapat berupa penemu untuk hasil penemuan, pemilik untuk barang yang dimiliki, akibat untuk sebab, sebab untuk akibat, isi untuk menyatakan kulitnya, dan sebagainya.
Metonimia disebut oleh Keraf (1992:142) sebagai bagian dari sinekdoke. Sinekdoke dibagi menjadi dua yaitu (1) pars pro toto dan totum pro parte: Pengungkapan keseluruhan objek padahal yang dimaksud hanya sebagian.
(1) Metonimia Pars Pro Toto
Pars Pro Toto adalah pengungkapan sebagian dari objek untuk menunjukkan keseluruhan objek. Adapun kata atau frase yang mengandung variasi makna metonimi Pars Pro Toto adalah:
KONTEKS DENOTATIF | KONTEKS DALAM SURAT KABAR |
7.a. Paman Sam datang dari Amerika dan memberiku oleh-oleh sebuah laptop produksi
IBM |
7.b. Amerika Serikat berduka. Dorothy Irene Height, perintis gerakan Hak Asasi Manusia Negeri Paman Sam tutup usia. (Judul Artikel: Godmother Gerakan HAM Amerika Serikat (Jawa Pos))
|
Frasa Paman Sa pada data 7a secara denotatif dimaknai sebagai nama seorang laki-laki dewasa. Namun ketika frasa Paman Sam digunakan pada konteks 7b, maknanya berubah. Pada konteks ini, Paman Sam mengacu pada sebuah negara, karena frasa Paman Sam adalah nama lain dari negara Amerika Serikat. Fenomena ini yang disebut Pars Pro Toto, yaitu fenomena ketika dipakai dalam konteks denotatif mengacu pada satu orang, namun ketika berada dalam konteks bahasa figuratif, mengacu pada sebuah negara yang di dalamnya dihuni
jutaan orang.
(2) Totum Pro Parte:
Totum Pro Parte adalah pengungkapan keseluruhan objek padahal yang dimaksud hanya sebagian. Adapun kata atau frase yang mengandung variasi makna metonimi Totum Pro Parte adalah:
KONTEKS DENOTATIF | KONTEKS DALAM SURAT KABAR |
8.a. Ada berita menggembirakan dalam dunia oomotif. Dua pabrik otomotif akan meluncurkan produk andalan mereka dengan pangsa pasar berbeda. Yamaha akan mengeluarkan produk sepeda motor matic baru dengan label Mio sedang Honda akan meluncurkan produk APV Xenia sebanyak 1000 unit di
Indonesia
9.a. Rohaniawan di Negara Amerika Serikat resah mendapati sebuah hasil penelitian yang menyatakan bahwa dua pertiga rakyat Amerika Serikat atheis
|
8.b. Menurut Nano, seusai ditabrak Xenia, bus masih melaju dan akhirnya menabrak Mio (Judul artikel: Xenia Tabrak Bus, Dua Tewas
(Suara Merdeka))
9.b. Amerika Serikat berduka. Dorothy Irene Height, perintis gerakan Hak Asasi Manusia Negeri Paman Sam tutup usia. (Judul Artikel: Godmother Gerakan HAM Amerika Serikat (Jawa Pos))
|
Data 8b dan 9b adalah kebalikan dari data 7b. Jika pada data 7b kata Paman Sam mewakili seluruh masyarakat Amerika Serikat yang ini berarti kata khusus digunakan dalam kontekls umum, maka pada 8b dan 9b kita melihat kata Xenia, Mio dan Amerika Serikat merupakan kata umum yang digunakan dalam konteks khusus. Kata Xenia dan Mio adalah sebuah produk dari sebuah pabrik otomotif. Tidak jelas Xenia dan Mio yang mana karena bisa merujuk pada Xenia dan Mio yang mana saja. Bisa berupa Xenia dan Mio produk keluaran lama, atau berwarna merah atau yang dilengkapi dan jumlahnya satu atau banyak, atau seluruh Mio dan Xenia yang ada di dunia, padahal yang terlibat dalam kecelakaan jelas hanya sebuah Mio dan Xenia yang definit. Demikian juga pada data 9b, penulis menggunakan kata Amerika Serikat berduka untuk menimbulkan efek tertentu. Padahal, yang berkabung dalam konteks ini tidak semua warga Amerika Serikat. Hanya sebagian saja yang mengalami perasaan tersebut.
E.4. Generalisasi
Generalisasi atau perluasan makna adalah proses perubahan makna kata dari yang lebih khusus ke yang lebih umum (Suwardi, 2008). Adapun kata atau frase yang mengandung variasi makna generalisasi adalah:
KONTEKS DENOTATIF
|
KONTEKS DALAM SURAT KABAR
|
10.a. Sang raja menitahkan para punggawanya untuk menumpas pemberontakan yang terjadi di daerah tapal batas
11.a. Meskipun Bali telah mengalami kemajuan yang pesat dalam kebudayaan, namun tetap saja fenomena perbedaan kasta dijumpai disana meskipun tidak banyak 12.a. Karirnya di dunia militer lumayan cemerlang. Tidak berapa lama, pangkat kapten telah diraihnya 13.a. Untuk mempertahankan wilayah kekuasaannya, kaisar Cina membangun benteng besar dan panjang yang kemudian kita kenal sebagai Tembok Besar Cina |
10.b. Punggawa Barcalona sangat gusar kepada Olegario Benquerenca (Keputusan Janggal Reduksi Peluang (Jawa Pos))
11.b. Karena ada kastanisasi yang berdasarkan pada kompetensi, biaya mahal RSBI itu wajar ujarnya (Kemendiknas Belum Atur Biaya RSBI (Jawa Pos)) 12.b. Kapten Tim, Nikki Tiffany menjadi andalan mendulang poin (Dramatis (Jawa Pos))
13.b. Juara Spanyol itu gagal menembus ketatnya benteng pertahanan Inter yang dikawal Lcio (Siap Revans di Nou Camp (Jawa Pos))
|
Kata punggawa, kasta, kapten, dan benteng yang ada pada data10a, 11a, 12a, 13a sebenarnya adalah kata-kata yang bernuansa khas. Paunggawa dijaman dahulu merujuk pada jabatan keprajuritan kerajaan. Kasta adalah terminologi bermuatan budaya yang ada dalam agama Hindu yang mengacu pada pembagian kelas sosial masyarakat. Kapten adalah pangkat dalam ketentaraan dan benteng adalah nama tempat untuk bertahan dari serangan musuh. Namun, sejalan dengan perkembangan jaman, makna kata-kata di atas berubah. Punggawa kiti tidak hanya dipakai dalam kerajaan. Dalam permainan sepak bola juga dipakai untuk merujuk pada orang yang memilik peran besar dalam sebuah tim sepak bola. Kata kasta yang sebelumnya hanya digunakan oleh orang hindu, kini dipakai secara umum untuk merujuk pada pembagian atau hirarki dalam kelompok dengan tidak melandaskan pembagian tersebut pada agama dan budaya namun lebih kepada kemajuan atau perkembangan sesuatu atau seseorang. Kata kapten yang semula dipakai dalam dunia militer, kini dipakai secara umum untuk mengacu pada jabatan pemimpin. Benteng, tidak lagi bermakna bangunan kokoh untuk berlindung dari serangan musuh, tapi leih berorientasi pada aspek pertahanan saja dan bukan pada aspek gedung atau bangunan.
E.5. Spesialisasi
Splesialisasi adalah proses perubahan makna dari yang lebih umum ke yang khusus (Suwardi, 2008)
Adapun kata atau frase yang mengandung variasi makna spesialisasi adalah:
KONTEKSDENOTATIF | KONTEKS DALAM SURAT KABAR |
14.a. Dinasti Abbasiah tidak hanya dikenal karena kekuatan tentaranya, namun jaman ini dikenal karena telah sukses melahirkan sarjana-sarjana terkenal dalam banyak bidang ilmu 15.a. di jaman penjajahan Belanda dulu, pribumi yang bersekolah di madrasah-madrasah benar-benar diawasi agar tidak menjadi pemberontak dan menentang penjajahan | 14.b. Tujuan visitasi tersebut menurut Humas Unisri Ikka Litnaniyah adala sebagai sebagai peningkat akreditasi dalam proram studi untuk program sarjana (FISIP Visitasi Program Studi (Suara Merdeka)) 15.b. Yang tidak kurang pentingnya adalah perubahan kelembagaan pada tingkat madrasah aliyah (MA), baik di pesantren maupun bukan berbasis pesantren |
Kebalikan dari generalisasi, spsialisasi adalah proses penyempitan makna, dari semula bermakna umum menjadi khas seperti yang dapat kita lihat pada data 14b dan 15b. Kata Sarjana pada data 14a yang bermakna cendikiawan dijaman dulu, beralih makna menjadi lulusan perguruan tinggi. Demikian juga kata madrasah pada 15a yang bermakna sekolah umum, mengalami penyempitan maknapada data 15b. Makna trerkini dari madrasah adalah sekolah yang Islam.
E.6. Asosiasi
Kata asosiasi antara lain berarti tautan dalam ingatan pada orang atau barang lain: pembentukan hubungan atau pertalian gagasan, ingatan, atau kegiatan pancaindera (Suwandi, 2008)
Adapun kata atau frase yang mengandung variasi makna asosiatif adalah:
KONTEKS DENOTATIF | KONTEKS DALAM SURAT KABAR |
16.a. Bapak kemarin membelikan dik Umi boneka Lumba-lumba yang lucu dan berwarna
merah muda |
16.b.Pasalnya, ormas Islam itu jangan sampai dijadikan boneka kepentingan politik kekuasaan (Judul artikel: Din Syamsudin Siap Jadi Sasaran Tembak (Suara
Merdeka)) |
Pada data 16a, kata boneka dimaknai secara denotatif sebagai sebuah mainan anak-anak berwujud tiruan dari manusia atau hewan yang biasanya terbuat dari bahan kain, plastik, atau busa. Ketika kata ini dipakai dalam kontek 16b, kata boneka mengalami perubahan makna karena fenomena asosiasi, yaitu fenomena penyamaan ormas Islam dengan boneka karena emliki karakter yang sama yaitu dapat dimainkan sesuka hati.
E.7. Ameliorasi
Peninggian makna atau ameliorasi adalah proses perubahan makna yang mengakibatkan makna baru dirasakan lebih tinggi, lebih hormat, atau lebih baik nilainya daripada makna yang lama atau semula (Suwandi, 2008)
Adapun kata atau frase yang mengandung variasi makna amelioratif adalah:
KONTEKS DENOTATIF | KONTEKS DALAM SURAT KABAR |
17.a. Sidang perdata pak Anton dihakimi oleh Daniel Parera, M.H
|
17.b. Untoro (38) warga desa Glodogan, kecamatan Klaten Selatan babak belur dihakimi
warga (Suara Merdeka)) |
Makna sebenarnya dari kata dihakimi pada 17b adalah adalah dihajar sampai babak belur oleh masyarakat. Penulis artikel melakukan peninggian makna dengan mengganti kata berkonotasi negatif dihajar sampai babak belur menjadi dihakimi yang lebih bernuansa negatif seperti yang ada pada data 17a.
E.8. Peyorasi
Penurunan makna atau peyorasi adalah proses perubahan makna yang mengakibatkan makna baru atau makna sekarang dirasakan lebih rendah, kurang baik, kurang menyenangkan, atau kurang halus nilainya daripada makna semula (lama) (Suwandi, 2008)
Adapun kata atau frase yang mengandung variasi makna peyoratif adalah:
KONTEKS DENOTATIF | KONTEKS DALAM SURAT KABAR |
18.a. Kera yang keluar dari kandangnya itu ahirnya berhasil diringkus oleh karyawan penjaga kebun binatang
19.a. Bu Hani sangat kesal dengan ulah anak didiknya. Di plototinya mereka satu persatu dan wajah anak-anak itupun tertunduk ketakutan. 20.a. Andi tidak dapat memejamkan matanya sedikitpun. Di hutan itu, ia merasa ketakutan mendengar suara hewan aneh yang berkoar-koar di malam hari |
18.b. Kemarin polisi meringkus Amirul Yusuf Suharto (Judul artikel: Pencuri Berkas Pajak Tertangkap (Jawa Pos))
19.b. DKK plototi jajanan di sekolah (judul (Jawa Pos)) 20.b. Anda akan melihat Messi sebenarnya” Koar Pep, sapaan Guardiola seperti dilansir dari goal |
Dengan menggunakan kata meringkus pada 18b, penulis artikel ingin menyamakan Amirul Yusuf Suharto dengan monyet pada data 18a. Kata netral yang seharusnya dipakai adalah kata menangkap. Dengan dipilihnya kata meringkus dari pada menagkap, penulis terlihat seakan menganggap Amirul seperti hewan buas dan nakal yaitu monyet. Kata plototi pada data 19b juga berkonotasi negatif. Kata netral yang seharusnya digunakan adalah melihat. Dengan menggunakan kata meloto, penlis berusaha membangun makna bahwa kata melotot yang dilakukan oleh Dinas Kebersihan dan Kesehatan adalah melihat dengan sungguh-sungguh. Demikian juga pada data 20b, penulis membangu makna fguratif dengan menggunakan kata Koar (yang biasanya ditujukan pada hewan) dan melekatkannya Guardiola untuk menggantikan kata “berkata”
E.9. Variasi Makna Hasil Pungutan
Dalam variasi makna hasil pungutan, leksikon maupun nilai budaya yang dikandung bukan asli Indonesia, melainkan leksikon yang sekaligus bernilai buaya asing atau daerah.
Adapun kata atau frase yang mengandung variasi makna hasil pungutan adalah:
KONTEKS DENOTATIF | KONTEKS DALAM SURAT KABAR |
21.a. Hari ini benar-benar merupakan hari mujur bagi Paimin. Setiap kali senar pancingnya dilempar ke air, setiap kali itu pula umpannya dicaplok ikan
22.a. Komandan kompi memerintahkan anak buahnya mencopot segala atribut yang berhubungan dengan tanda pengenal kesatuannya. 23.a. Anak-anak Inggris itu belajar quick count di kelas matematika mereka |
21.b. Ini akibat sikap pragmatisme dari partai yang tak mau memberikan kaderisasi sehingga main caplok saja (Judul artikel: Usulan Menagri Untungkan Birokrat (Suara Merdeka))
22.b. Poltak enggan berkomentar tentang pencopotan dirinya dari kursi Kejati Maluku (Jawa Pos)) 23.b. Karena itulah muncul inisiatif membuat quick count di seluruh TPS Di kecamatan Jebres (Jebres Siapkan Quick Count (Jawa Pos)) |
Seperti yang terlihat pada data 21-23, terkihat banyak sekali perubahan makna yang muncum akibat dipinjamkannya leksem dari bahasa lain seperti bahasa daerah dan Inggris. Disini kita dapat melihat bahwa wartawan berusaha membangun makna baru dengan cara meminjam beberapa leksem dari bahasa di luar bahasa Indonesia.
E.10. Variasi Makna Kompleks
Variasi Makna Kompleks Terbentuk dari rangkaian perubahan makna. Seperti contoh
KONTEKS DENOTATIF | KONTEKS DALAM SURAT KABAR |
23.a. Untuk memeriahkan acara ulang tahun adik, ibu menghiasi rumah dengan balon warna warni
|
23.b. Sementara itu, kubu bakal calon (balon) ketua umum Andi Mallarangeng, akan menempatkan SBY dalam posisi hermanen (Pendukung Ingin Demokrat Jadi Partai
Kader) |
Pada data 23a, kata balon dimaknai sebagai benda bulat terbuat dari karet berwarna warni yang didalamnya berisi udara. Kata ini mengalami perubahan mana yang sangat menyimpang dari makna dasarnya, bukan karena proses penyamaan atau asosiasi, tapi fenomena ini terjadi karena adanya proses akronimisasi (atau tepatnya blending) dari kata balon. Kata balon pada 23b merupakan fenomena proses blending dari dua satuan lingual yaitu kata bakal yang dipotong bertasarkan silabus dan diambil suku pertamanya saja, serta kata calon, yang diambil suku kata kedua dan membuang suku kata pertama. Proses yang agak rumit ini karena selain melibatkan perubahan makna kata juga melibatkan fenomena pembentukan kata baru yaitu blending, maka fenomena ini kemudian disebut Variasi Makna Kompleks.
E.11. Variasi Makna karena Homonimi
Kata homonimi berasal dari bahasa Yunani kuno onoma yang artinya ‘nama’ dan homo yang artinya ‘sama’. Secara harfiah kata homonimi dapat diartikan sebagi “nama sama untuk benda atau hal lain”. Secara semantik, Verhaar (2008) memberi definisi homonimi sebagai ungkapan (berupa kata, frasa atau kalimat) yang bentuknya sama dengan ungkapan lain (juga berupa kata, frasa atau kalimat) tetapi maknanya tidak sama. Hubungan antara dua buah kata yang homonim bersifat dua arah.
Adapun contoh variasi makna karena Homonimi adalah sebagai berikut:
KONTEKS UNTUK MAKNA 1 | KONTEKS UNTUK MAKNA 2 |
24.a. Dengan terpaksa, si Abu pergi juga kepasar dengan mengendarai sepeda
25.a. Untuk mendapatkan bisa ular yang akan dipakai sebagai penawar racun, tidak bisa tiak kita harus berburu ular di hutan 26.a. Karena berat dan tidak ada seoangpun yang membantu, karung beras itu akhirnya diseret perlahan-lahan oleh si anak kecil |
24.b. Gunung di Gletser Eyjafjallajokull menyemburkan abu vulkanik (Gunung lain Berpoternsi Meletus (Republika))
25.b. Karena itu penyidik tidak bisa memaksakan pemeriksaan selesai dalam satu atau dua hari (Terima Piala, Susno Menangis (Jawa Pos)) 26.b. Keluarnya dana dibuat seret sehingga para penyelenggara Pemilu tidak bisa melakukan persiapan optimal (Incumbent dan Dana Pilkada (Jawa Pos)) |
Dari data 24 da 25, kita dapat melihat fenomena terjadinya variasi makna yang disebabkan karena Homonimi. Kata Abu yang bermakna nama orang mengalami variasi makna ketika kata ini masuk kedalam konteks 24.b, yang dimaknai sebagai partikel kecil sejenis tanah yang berterbangan karena proses meletusnya gunung berapi. Demikian juga pada data 25.a, yaitu kata bisa yang berarti racun ular mengalami variasi makna ketika berada dalam konteks 25.b. Dalam konteks 25b, kata bisa, diartikan sebagai sebuah kemungkinan, atau kesanggupan untuk melakukan sesuatu. Fenomena ini yan disebut Homonimi Homofon.
Berbeda dengan data 25 dan 26, pada data 27 terdapat variasi makna yang disebabkan oleh berbedanya pengucapan dari kata seret. Pada data 27a, ata seret dibaca [sêrêt] yang memiliki pengertian yaitu memindahkan sesuatu dengan cara menariknya. Sedang pada kata seret dalam contoh 27b, yang dibaca seret, memiliki makna sulit atau sukar untuk keluar. Fenomena in yang disebut Homonimi Homograf
E.12. Variasi Makna karena Polisemi
Polisemi lazim diartiakan sebagai satuan bahasa (terutama kata, bisa juga frase) yang memiliki makna lebih dari satu. Umpamanya, kata kepala dalam bahasa Indonesia memiliki enam makna. Namun, makna–makna yang banyak dari sebuah kata yang polisemi itu masih ada sangkutpautnya dengan makna asal, karena dijabarkan dari komponen makna yang ada pada makna asal kata tersebut.
Adapun contoh variasi makna karena Polisemi adalah sebagai berikut:
KONTEKS UNTUK MAKNA 1 | KONTEKS UNTUK MAKNA 2 |
27a. Meskipun memiliki anak sepuluh, pak Sutris tidak pernah kerepotan menguusi anak-anak kandungnya. Dengan berpedoman pada falsafah lama banyak anak banyak rejeki,
dijalaninya kehidupannya dengan riang gembira 28.a Kepala beberapa polisi robek karena terkena lembaran batu dalam demonstrasi pada hari sabtu tersebut |
27.b. “Kalau pimpinan memutuskan seperti itu, kita laksanakan. Saya kan anak buah,” elak Poltak. (Jaksa Gayus Dicopot (Jawa Pos))
28.b Sementara itu, kepala dinas pendidikan Kabupaten Bintan, Ismail, mengakui kalau pendidikan belum sampai menjangkau pulau Pejantan |
Data 27 dan 28 merupakan contoh variasi makna arena polisemi. Pada data tersebut terlihat, meskipun terdapat variasi makna, namun esensi dari variasi terseut tetap sama, seperti anak kandung dengan anak buah, meskipun makna secara umum berbeda namun secara esensi dua kata ini memiliki makna sama yaitu
turunan dari sesuatu, bisa berupa orang tua, maupun pimpinan di atasnya. Demikian juga kata kepala dan kepala Dinas (28a dan 28b), meskipun memiliki makna berbeda, namun makna intinya sama yaitu sesuatu yang berada di atas.
F. SIMPULAN
Dari paparan yang telah disampaikan di atas kita dapat menyimpulkan beberapa hal antara lain:
- Dalam tiga surat kabar yang diteliti, dijumpai banyak sekali variasi makna atau yang biasa disebut bahasa figuratif bahasa figuratif yang dijumpai adalah: metafora, metonimi, personifikasi, ameliorasi, peyorasi, spesialisasi, dan generalisasi
- Terdapat juga variasi makna yang muncul karena memungut bahasa asing
- Fenomena variasi makna kompleks dapat juga dijumpai pada salah satu dari ketiga koran tersebut meskipun tidak banyak bahasa figuratif yang paling banyak dijumpai adalah metafora
- Dengan ditemukannya banyak bukti keberadaan variasi makna di surat kabar, semakin memperjelas pernyataan bahwa surat kabar adalah pabrik kata
- Apa yang dikatakan Wahab (1986) yang menyatakan banyak kata kasar dijumpai dalam media massa adalah benar adanya.Kita dapat melihat contoh kata kasar ini pada bagian peyorasi seperti kata meringkus, mencopot, melotot, digunakan dalam surat kabar.
REFERENSI
Chaer, Abdul. 1989. Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
Lyon, John. 1977. Semantics Volume I. Cambridge: Cambridge University Press
Pradopo, Rahmat Djoko. 1994. Stilistika dalam Buletin Humaniora No.1 tahun 1994.Yogyakarta: Fakultas Sastra UGM.
Shaw, Harry. 1972. Dictionary of Literary Terms. New York: McGraw-Hill Book Co.
Sumarsono.2007. Pengantar Semantik. . Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Suwandi, Sarwiji. 2008. Semantik: Pengantar Kajian Makna.Yogyakarta: Media Perkasa
Wahab, Abdul. 1986. Kesemestaan Metafora Jawa. Malang: IKIP Malang
Verhaar, J.W.M. 2008. Asas-asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Demikianlah artikel mengenai Variasi Makna Bahasa Indonesia, semoda dapat memberikan manfaat bagi Anda mengenai kekayaan makna dalam bahasa Indonesia. Baca juga artikel mengenai Variasi Majas Bahasa Indonesia. Akses-Ilmu.
Langganan:
Postingan
(
Atom
)
- Contoh Paragraf Narasi, Deskripsi, Eksposisi, Argumentasi, dan Persuasi
- Perbedaan Gagasan Utama, Kalimat Utama, dan Kesimpulan
- Definisi Resensi + Contoh Resensi Cerpen
- Download Kumpulan Soal SIMAK UI Plus Kunci Pembahasan
- Jenis-Jenis Paragraf Eksposisi
- Teks Prosedur Kompleks
- Cara Menemukan Gagasan Utama atau Ide Pokok






